photo bannercreator-nu1_zpsuf9u53ms.gif

Sapi Kloning Penghasil Air Susu Manusia

11 Jun 2011

Baru-baru ini dilaporkan keberhasilan ilmuwan yang tergabung dalam National Institute of Agribusiness Technology (Institut Teknologi Agribisnis) Buenos Aires, Argentina menciptakan sapi dari hasil kloning yang mampu menghasilkan air susu yang mirip air susu ibu (ASI) pada manusia. Sapi yang diberi nama Rosita ISA ini lahir pada tanggal 6 April 2011.

sapi kloning rekayasa genetika argentina

Sebenarnya, sebelumnya sudah ada sapi hasil kloning lainnya di Cina yang juga menghasilkan susu mirip air susu manusia. Perbedaan antara sapi kloning di Argentina ini dengan Cina adalah sapi kloning di Argentina ini air susunya diklaim mengandung 2 jenis protein yang terkandung pada ASI manusia yakni laktoferin dan lysozyme, sementara sapi kloning di Cina hanya mengandung lysozyme saja. Laktoferin adalah protein yang mampu melindungi bayi terhadap bakteri dan virus, begitu juga dengan lysozyme, selain juga meningkatkan kekebalan tubuh bayi.

Keberhasilan awal ini membuka jalan bagi tersedianya susu kemasan yang dijual di pasaran dengan nilai gizi yang lebih baik karena lysozyme ataupun laktoferin tidak dijumpai atau hanya ada dalam jumlah sangat sedikit pada susu suplemen di pasaran ataupun pada susu sapi segar. Sebagai perbandingan, lysozyme yang terdapat pada air susu ibu mencapai 200-400 ug/ml, sementara hanya terdapat 0,05-0,22 ug/ml pada susu sapi biasa. Sapi hasil kloning bisa memproduksi susu yang mengandung lysozyme hingga lebih kurang 30 ug/ml. Tentunya ini akan membantu di era modernisasi dan emansipasi wanita yang dengan penelitian lebih lanjut diharapkan mampu mengganti air susu ibu sehingga ibu-ibu yang bekerja ataupun ibu-ibu yang tak mau menyusui anaknya tak harus khawatir lagi dalam mencukupi kebutuhan gizi anaknya dengan ASI.

Akan tetapi susu hasil rekayasa genetika ini belum akan segera sampai di pasaran dan harus menunggu hingga sampai 10 tahun lagi untuk bisa diproduksi massal. Itupun tentu tak terlepas juga dari pihak-pihak yang kontra dan benturan regulasi di negara-negara tertentu. Paling tidak terdapat beberapa klaim tentang sudah dipasarkannya susu hasil rekayasa genetika di beberapa negara barat, tapi belum mendapat persetujuan dari lembaga resmi, dan tentunya terdapat juga tentangan dari organisasi-organisasi atau pihak yang kontra, yang khawatir tentang keamanan pengkonsumsian ataupun mereka anggap bertentangan dengan moral dan etika. Yang jelas belum ada bukti ilmiah tentang bahaya mengkonsumsi produk hasil rekayasa genetika, dan banyak sebenarnya berbagai produk yang dikonsumsi manusia saat ini tanpa disadari adalah hasil rekayasa genetika. Dan rekayasa genetika sendiri sudah banyak bermanfaat bagi dunia kesehatan, seperti halnya produksi insulin untuk penderita diabetes, produksi hormon pertumbuhan, dsb.

Bagaimana sebenarnya kloning terhadap sapi ini dilakukan?

Prosesnya tak terlepas dari proses yang disebut somatic cell nuclear transfer, yang mentransfer nukleus (inti sel) dari sebuah sel somatik (sel dewasa pada sebuah organisme/individu) ke dalam sebuah sel telur yang sudah dibuang nukleus (inti sel) nya. Proses dilakukan secara manual dengan menggunakan pipet berukuran sangat kecil (micropipette). Nukleus dari sel yang akan diklon tadi akan mengalami proses pemrograman ulang di dalam sel telur sehingga hilanglah ciri khas bahwa ia berasal dari sebuah sel dewasa. Sel dewasa disini tak lain dan tak bukan adalah sel-sel di dalam tubuh kita seperti sel kulit, sel darah, sel saraf, sel tulang dsb. Sebuah sel dewasa tak akan bisa mengalami perubahan jenis, semisal sel kulit tak akan bisa menjadi sel darah. Proses pemrograman di dalam sel telur, yang terjadi secara alamiah dan masih belum begitu dimengerti oleh ilmuwan, akan membuat nukleus tadi seolah-olah berasal dari sebuah zigot atau calon individu baru/embryo sehingga memiliki potensi untuk membentuk semua jenis sel yang ada.

Sel telur yang sudah ditransfer dengan nukleus dari sel dewasa tersebut lalu akan membelah dan memperbanyak diri setelah distimulasi semisal dg listrik. Kemudian akan dibiarkan beberapa hari dalam tabung di laboratorium untuk melihat perkembangannya normal atau tidak, baru kemudian diimplantasi ke dalam rahim sebuah hewan yang dijadikan tumpangan (surrogate mother), untuk kemudian dilahirkan. Inilah garis-garis besar dari sebuah reproductive cloning (kloning reproduksi).

Dalam proses membentuk sapi kloning yang bisa menghasilkan protein sebagaimana yang terdapat pada air susu manusia ini, rekayasa genetika dilakukan terlebih dahulu pada DNA/gen dari nukleus sel sapi yang akan ditransfer ke sel telur. Gen-gen pada manusia yang bertanggung jawab terhadap pembentukan protein pada air susu akan di insert (disisipi) ke dalam DNA yang terdapat pada nukleus sapi, sehingga nantinya gen tersebut menjadi bagian dari gen sapi hasil kloning, dan membuatnya bisa menghasilkan air susu yang mirip dengan air susu manusia.

Reproductive cloning sendiri sebenarnya memiliki banyak kelemahan sebagaimana keberadaannya yang masih baru di dunia sains. Di antara keterbatasannya adalah reproductive cloning tidak efisien dan memiliki tingkat keberhasilan yang rendah. Dari sekian banyak sel yang dipersiapkan di laboratorium sebelum implantasi ke rahim, hanya beberapa saja yang normal. Kemudian dari beberapa yang diimplantasi, hanya beberapa saja yang sukses. Dan dari beberapa yang lahir, banyak yang mati ketika masih bayi ataupun jika bertahan jarang yang mencapai usia dewasa. Hal ini dikarenakan sel yang digunakan untuk kloning tidak benar-benar mengalami pemrograman ulang secara sempurna, tetapi masih menyisakan corak gen/DNA atau struktur kromosom sel asalnya yang mempengaruhi peran gen dalam memproduksi protein-protein yang dibutuhkan. Umur hewan kloning pun tak bisa lama karena bagian ujung kromosom yang disebut telomere, dimana terkait dengan umur/usia suatu individu, adalah persis sebagaimana telomere sel asal. Dengan kata lain bayi hasil kloning itu sebenarnya secara genetik sudah agak berumur sebagaimana sel asalnya.

Reproductive cloning juga memerlukan banyak resources yang terbuang karena mengharuskan tersedia sel telur dalam jumlah banyak dan juga hewan-hewan yang akan dijadikan rahimnya sebagai tumpangan.

Seiring berjalan waktu segala kelemahan reproductive cloning akan ditekan terutama dengan berbagai usaha penelitian yang dilakukan, apalagi teknik ini sendiri masih dalam tahap awal pengembangan semenjak diperkenalkan. Sementara itu perkembangan pesat di penelitian sel induk (stem cell) juga memberi alternatif lain, antara lain dengan ditemukannya cara memprogram ulang sel dewasa di dalam tabung-tabung laboratorium, tanpa harus melibatkan sel telur, yang terkenal dengan istilah induced Pluripotent Stem Cell (iPS).

Foto sapi kloning penghasil air susu manusia di atas diambil dari situs emol.


TAGS Bioteknologi rekayasa genetika laktoferin lysozyme sapi kloning reproductive cloning argentina


-

Search

Tulisan Baru