photo bannercreator-nu1_zpsuf9u53ms.gif

Kapan 1 Ramadhan / Mulai Puasa / Hari Raya ? Pembahasan Dari Segi Syar’i

29 Jul 2011

Umat Islam seringkali bingung karena terdapat perbedaan dalam penetapan awal Ramadhan dan hari raya, baik Idul Fitri maupun Idul Adha (semoga tahun ini tidakbegitu, dan dilakukan secara serentak).Kenapa harus berbeda-beda ? Yang mana yang benar? Kenapa tidak bisa serentak dilaksanakan? Apakah boleh berbeda-beda ?Bukannya dengan puasa atau hari raya yang tidak serentak menimbulkan kesan tidak bersatunya umat Islam dan akan terasa kurang meriah ? Barangkali pertanyaan seperti itu seringkali muncul di pikiran banyak dari kaum muslimin. Pembahasan di bawah ini yang disertai link / tautan, insya Allah akan mengupas permasalahan tersebut dengan berbagai dalil syari / agama supaya permasalahan ini menjadi jelas, dan umat Islam bisa tetap tegak di atas sunnah yang benar.

Sudah terdapat berbagai selebaran imsakiyah ramadhan saat ini yang beredar di masyarakat yang menunjukkan bahwa satu Ramadhan jatuh pada tanggal 1 Agustus. Penetapan tanggal 1 Ramadhan tersebut adalah berdasarkan metode hisab yang kalau saya tak salah adalah suatu metode perhitungan berdasarkan ilmu astronomi, mempelajari pergerakan benda-benda langit seperti bulan dan bintang.

Setahu saya menentukan bulan hijriah dengan metode hisab ini adalah lazim dilakukan sebuah organisasi Islam terbesar kedua di Indonesia. Akan tetapi bagi organisasi Islam besar lainnya, mereka tidak berpedoman pada metode tersebut, tetapi memakai metode ruyatul hilal (melihat hilal). Ruyatul hilal atau melihat hilal maksudnya adalah melakukan penglihatan langsung di langit/cakrawala dengan mata telanjang dan tanpa bantuan alat untuk menyaksikan apakah bulan sabit sudah bisa terlihat yang menandakan kita sudah memasuki bulan baru di penanggalan hijriah. Dalam hal penentuan awal puasa, maka Ruyatul hilal dilakukan di akhir bulan Syaban. Jika pada tanggal 29 Syaban bulan tetap tak terlihat di ufuk, maka bulan Syaban digenapkan menjadi 30 hari. Jika bulan terlihat, maka keesokan harinya adalah awal bulan Ramadhan.

Tentang penentuan awal Ramadhan maupun hari raya, adakalanya hasil metode hisab sama dengan hasil ruyatul hilal, namun adakalanya juga berbeda. Bahkan di antara pihak-pihak yang menggunakan metode hisab juga memiliki standar yang berbeda tentang ketinggian derajat munculnya bulan dari hasil penghitungan yang bisa diterima sebagai tanda awal masuknya bulan baru hijriah. Tak heran terjadi perbedaan awal mulai puasa dan hari raya di kalangan umat Islam.

Saya tidaklah memiliki kecondongan dan tidak pula mengidentifikasi diri saya kepada salah satu dari dua ormas atau organisasi Islam yang paling besar di tanah air tersebut. Saya lebih memilih untuk bersikap mengikuti suatu pendapat yang dianggap lebih mendekati kebenaran, berdasarkan tuntunan Al Quran dan sunnah Rasulullah, sebagaimana yang dipahami dan dijalankan oleh sahabat-sahabat Rasulullah yang mulia, dan sampai kepada kita dari generasi ke generasi melalui ulama-ulama besar yang terpercaya yang terlahir setiap zamannya (setiap 100 tahun pasti Allah menurunkan seorang mujaddid, berdasarkan hadis rasulullah, dimana mereka akan meluruskan agama Islam ini jika terjadi penyimpangan-penyimpangandi masyarakat). Dan memang dalam beberapa hal terdapat perbedaan pendapat yang diakui dan dimaklumi sendiri oleh semua ulama, akan tetapi tentunya harus tetap berada di atas bimbingan al Quran, hadis, atau sunnah rasulullah, dan mengembalikan semua perselisihan yang ada hanya kepada Allah dan RasulNya.

Dan berpegang-teguhlah kalian semua dengan tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai-berai.” (Al Quran Surat Ali `Imran: 103)

Al-Imam Al-Qurthubi berkata: “Allah Subhanahu wa Ta’ala mewajibkan kepada kita agar berpegang teguh dengan Kitab-Nya (Al-Qur`an) dan Sunnah Nabi-Nya, serta merujuk kepada keduanya di saat terjadi perselisihan. Sebagaimana Dia (juga) memerintahkan kepada kita agar bersatu di atas Al-Qur`an dan As-Sunnah baik secara keyakinan atau pun amalan” (Tafsir Al-Qurthubi, 4/105)

Lalu, bagaimana tuntunan rasulullah tentang penetapan awal puasa atau awal bulan Ramadhan ? Dan bagaimana nasehat dan petunjuk para ulama tentang perbedaan yang terjadi?

Terdapat dalil-dalil agama yang jelas tentang penggunaan metode ruyat dalam menentukan awal ramadhan maupun jatuhnya hari raya, sementara ulama-ulama besar dari zaman ke zaman menolak penggunaan metode hisab (perhitungan). Baca dengan mengklik DISINI untuk keterangan lebih lanjut menyangkut penggunaan ruyatul hilal dalam penentuan awal bulan Ramadhan.

Menyangkut perbedaan yang muncul di masyarakat, maka wajib bagi setiap muslim bersatu mengikuti ketentuan dari pemimpin mereka, dalam hal ini adalah penguasa (kepala negara) beserta lembaga tertinggi keagamaan di negaranya masing-masing, apa pun metode yang dipakai. Untuk Indonesia, tentunya saat ini pemimpinnya adalah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono beserta kementrian agama. Untuk penjelasan tentang hal ini silakan baca dengan mengklik DISINI.

Terlepas dari itu semua, semoga umat Islam Indonesia bisa serentak memulai puasa dan juga serentak mengakhirinya dengan merayakan hari raya Idul Fitri bersama-sama, tanpa perbedaan di tahun ini. Amin…


TAGS puasa Ramadhan


-

Search

Tulisan Baru