photo bannercreator-nu1_zpsuf9u53ms.gif

Larangan, Yang Merusak / Membatalkan, Yang Dibolehkan, dan Niat Dalam Puasa

31 Jul 2011

Yang Wajib Dijauhi Oleh Orang Yang Berpuasa

Ketahuilah wahai orang yang diberi taufik untuk mentaati Rabbnya Jalla Sya’nuhu yang dinamakan orang puasa adalah yang mempuasakan seluruh anggota badannya dari dosa, dan mempuasakan lisannya dari perkataan dusta, kotor, dan keji, mempuasakan perutnya dari makan dan minum, dan mempuasakan kemaluannya dari jima’.Jika bicara dia berbicara dengan perkataan yang tidak merusak puasanya, hingga jadilah perkataannya baik dan amalannya shalih.

Inilah puasa yang disyari’atkan Allah hanya semata tidak makan dan minum serta tidak menunaikan syahwat, puasa adalah puasanya anggota badan dari dosa, puasanya perut dari makan dan minum, sebagaimana halnya makan dan minum merusak puasa, demikian pula perbuatan dosa merusak pahalanya, merusak buah puasa sehingga menjadikan dia seperti orang yang tidak berpuasa.

Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam telah menganjurkan seorang muslim yang puasa untuk berhias dengan akhlak yang mulia dan shalih, menjauhi perbuatan keji, hina dan kasar. Perkara-perkara yang jelek ini walaupun seorang muslim diperintahkan untuk menjauhinya setiap hari, namun larangannya lebih ditekankan lagi ketika sedang menunaikan puasa yang wajib.

Seorang muslim yang berpuasa wajib menjauhi amalan yang merusak puasanya ini, hingga bermanfaatlah puasanya dan tercapailah ketaqwaan yang Allah sebutkan (yang artinya):

Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kalian berpuasa sebagai mana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian (Surat Al-Baqoroh: 183).

Karena puasa adalah pengantar kepada ketaqwaan, puasa menahan jiwa dari banyak perbuatan maksiat, berdasarkan sabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wasallam (yang artinya): Puasa adalah perisai, telah dijelaskan masalah ini dalam tulisan keutamaan puasa.

Inilah saudaraku seislam, amalan-amalan jelek yang harus kau ketahui agar engkau menjauhinya dan tidak terjatuh dalamnya.

1. Perkataan palsu

Dari Abi Hurairah : Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya):

Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan mengamalkannya, Allah tidak butuh perbuatan meninggalkan makan dan minumnya. (HR Bukhori (4/99))

2. Berkata/berbuat sia-sia dan kotor.

Dari Abu Hurairah : Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya):

Puasa bukanlah dari makan, minum (semata), tapi puasa itu menahan diri dari perbuatan sia-sia dan keji, jika ada orang yang mencelamu, katakanlah : Aku sedang puasa, Aku sedang puasa. (HR Ibnu Khuzaimah (1996), Al-Hakim (1/430-431). sanadnya SHAHIH)

Oleh karena itu Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam mengancam dengan ancaman yang keras orang-orang yang berbuat sifat-sifat tercela ini.

Beliau pernah bersabda (yang artinya):

Banyak orang yang puasa, bagiannya dari puasa hanyalah lapar dan haus. (HR Ibnu Majah (1/539), Darimi (2/221), Ahmad (2/441, 373), Baihaqi (4/270) dari jalan Said Al-Maqbari dari Abu Hurairah, sanadnya SHAHIH)

Dan sebab terjadinya demikian adalah bahwa orang-orang yang melakukan hal tersebut tidak memahaminya, sehingga Allah memberikan keputusan atas perbuatan tersebut dengan tidak memberikan pahala kepadanya. (Lihat Al-Lu’lu’ Wal Marjan fima Ittafaqo ‘alaihi Asy-Syaikhoni (707) dan Riyadhush Shalihin (1215))

Oleh sebab itulah Ahlul Ilmi dari generasi salafus shalih membedakan antara larangan dengan makna khusus dengan ibadah hingga membatalkannya dan larangan yang tidak khusus dengan ibadah dan ini tidak membatalkannya (Rujuklah : Jami’ul ulum wal Hikam (hal 58) oleh Ibnu Rajab)

Perkara-Perkara Yang Merusak Puasa

Banyak perbuatan yang harus dijauhi oleh orang yang puasa, karena kalau perbuatan ini dilakukan pada siang hari bulan Ramadhan akan merusak puasanya dan akan berlipat dosanya. Perkara-perkara tersebut adalah:

1. Makan dan Minum Dengan Sengaja

Allah ‘Azza Sya’nuhu berfirman:

Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datangnya) malam. (Al Baqarah : 187)

Difahami bahwa puasa itu (mencegah) dari makan dan minum, jika makan dan minum berarti telah berbuka, kemudian dikhususkan kalau sengaja, karena jika orang yang puasa melakukannya karena lupa, salah atau dipaksa, maka tidak membatalkan puasanya. Masalah ini berdasarkan dalil-dalil:

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Jika lupa hingga makan dan minum, hendaklah menyempurnakan puasanya, karena sesungguhnya Allah yang memberinya makan dan minum. (HR. Bukhari (4/135) dan Muslim (1155))

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:

Allah meletakkan (tidak menghukum) umatku karena salah atau lupa dan karena dipaksa. (HR. Thahawi dalam Syarhu Ma’anil Atsar (2/56), Al Hakim (2/198), Ibnu Hazm dalam Al Ihkam (5/149), Ad Daruquthni (4/171) dari dua jalan, yaitu dari Al Auza’i dari Atha’ bin Abi Rabah dari Ubaid bin Umair, dari Ibnu Abbas, sanadnya shahih)

2. Muntah Dengan Sengaja

Karena barangsiapa yang muntah karena terpaksa tidak membatalkan puasanya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Barangsiapa yang terpaksa muntah, maka tidak wajib baginya untuk meng-qadha puasanya, dan barangsiapa muntah dengan sengaja, maka wajib baginya meng-qadha puasanya. (HR. Abu Dawud (3/310), Tirmidzi (3/79), Ibnu Majah (1/536), Ahmad (2/489) dari jalan Hisyam bin Hasan, dari Muhammad bin Sirin, dari Abu Hurairah, sanadnya shahih sebagaimana yang diucapkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Haqiqatus Shiyam halaman 14)

3. Haidh dan Nifas

Jika seorang wanita haidh atau nifas, pada satu bagian siang, baik di awal ataupun di akhirnya, maka mereka harus berbuka dan meng-qadha kalau puasa tidak mencukupinya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Bukankah jika haidh dia tidak shalat dan puasa? Kami katakan, Ya... (HR. Muslim (79) dan (80) dari Ibnu Umar dan Abu Hurairah)

Perintah meng-qadha puasa terdapat dalam riwayat Mu’adzah, dia berkata:

Aku pernah bertanya kepada ‘Aisyah, Mengapa orang haidh meng-qadha puasa tetapi tidak meng-qadha sholat? ‘Aisyah berkata, Apakah engkau wanita Haruri (lihat penjelasan di bawah). Aku menjawab, Aku bukan Haruri, tetapi hanya (sekedar) bertanya. ‘Aisyah berkata, Kamipun haidh ketika puasa, tetapi kami hanya diperintahkan untuk meng-qadha puasa, tidak diperintahkan untuk meng-qadha shalat. (HR. Bukhari (4/429) dan Muslim (335).

Penjelasan :Al Haruri nisbat kepada Harura’ (yaitu) negeri yang jaraknya 2 mil dari Kufah, orang yang beraqidah Khawarij disebut Haruri karena kelompok pertama dari mereka yang memberontak kepada Ali ada di negeri tersebut, demikian dikatakan oleh Al Hafidz dalam Fathul Bari (4/424) dan lihat A Lubab (1/359) karya Ibnu Atsir. Mereka, orang-orang Haruriyah mewajibkan wanita-wanita yang telah suci dari haidh untuk meng-qadha shalat yang terluput semasa haidhnya. ‘Aisyah khawatir Mu’adzah menerima pertanyaan dari khawarij, yang mempunyai kebiasaan menentang sunnah dengan pikiran mereka. Orang-orang seperti mereka pada zaman ini banyak. Lihat pasal At Tautsiq ‘anillah wa Rasulihi dari risalah Dirasat Manhajiyat fii Aqidah As Salafiyah karya Alim Al Hilali.

4. Suntikan Yang Mengandung Makanan

Yaitu menyalurkan zat makanan ke perut dengan maksud memberi makanan bagi orang yang sakit. Suntikan seperti ini membatalkan puasa, karena memasukkan makanan kepada orang yang puasa. (Lihat Haqiqatus Shiyam hal 15, Karya Syaikh Islam Ibnu Taimiyah).

Adapun jika suntikan tersebut tidak sampai kepada perut tetapi hanya ke darah, maka inipun juga membatalkan puasa, karena cairan tersebut kedudukannya menggantikan kedudukan makanan dan minuman. Kebanyakan orang yang pingsan dalam jangka waktu yang lama diberikan makanan dengan cara seperti ini, seperti jauluz dan salayin, demikian pula yang dipakai oleh sebagian orang yang sakit asma, inipun membatalkan puasa.

5. Jima’

Imam Syaukani berkata (Dararul Mudhiyah 2/22): Jima’ dengan sengaja, tidak ada ikhtilaf (perbedaan pendapat) padanya bahwa hal tersebut membatalkan puasa, adapun jika jima’ tersebut terjadi karena lupa, maka sebagian ahli ilmu menganggapnya sama dengan orang yang makan dan minum dengan tidak sengaja.

Ibnul Qayyim berkata (Zaadul Ma’ad 2/66), Al Qur-an menunjukkan bahwa jima’ membatalkan puasa seperti halnya makan dan minum, tidak ada perbedaan pendapat akan hal ini.

Dalilnya adalah firman Allah:

Sekarang pergaulilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untuk kalian. (Al Baqarah : 187)

Diizinkan bergaul (dengan istrinya) di malam hari, (maka bisa) difahami dari sini bahwa puasa itu dari makan, minum dan jima’. Barangsiapa yang merusak puasanya dengan jima’ harus meng-qadha dan membayar kafarat, dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, (dia berkata):

Pernah datang seseorang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian berkata, Ya Rasulullah, binasalah aku! Rasulullah bertanya, Apakah yang membuatmu binasa? Orang itu menjawab, Aku menjima’i istriku di bulan Ramadhan. Rasulullah bersabda, Apakah kamu mampu memerdekakan seorang budak? Orang itu menjawab, Tidak. Rasulullah bersabda, Apakah engkau mampu memberi makan enam puluh orang miskin? Orang itu menjawab, Tidak. Rasulullah bersabda, Duduklah. Diapun duduk. Kemudian ada yang mengirim satu wadah kurma kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Rasulullah bersabda, Bersedekahlah. Orang itu berkata Tidak ada di antara dua kampung ini keluarga yang lebih miskin dari kami. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pun tertawa hingga terlihat gigi serinya, lalu beliau bersabda, Ambilah, berilah makanan keluargamu. (Hadits shahih dengan berbagai lafadz yang berbeda dari Bukhari (11/516), Muslim (1111), Tirmidzi (724), Baghawi (6/288), Abu Dawud (2390), Ad Darimi (2/11), Ibnu Majah (1671), Ibnu Abi Syaibah (2/183-184), Ibnu Khuzaimah (3/216), Ibnul Jarud (139), Syafi’i (199), Malik (1/297), Abdur Razak (4/196), sebagian memursalkan, sebagian riwayat mereka ada tambahan: Qadha-lah satu hari sebagai gantinya. Dishahihkan oleh Al Hafidz dalam Fathul Bari (11/516), memang demikian)

Ancaman Bagi Yang Membatalkan Puasa Ramadhan Secara Sengaja

Dari Abi Umamah Al-Bahili -Radhiallahu ‘anhu- Aku pernah mendengar Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

Ketika aku tidur, datanglah dua orang pria kemudian memegang dua lenganku, membawaku kesatu gunung yang kasar (tidak rata), keduanya berkata : Naik, aku katakan : aku nggak mampu, keduanya berkata: kami akan memudahkanmu, akupun naik hingga ketika aku sampai ke puncak gunung ketika itulah aku mendenganr suara yang keras. Akupun bertanya : Suara apakah ini ? Mereka berkata: Ini adalah teriakan penghuni neraka kemudian keduanya membawaku, ketika aku melihat orang-orang yang digantung dengan kaki diatas, mulut mereka rusak/robek, darah mengalir dari mulut mereka. Aku bertanya: Siapakah mereka ? Keduanya menjawab : mereka adalah orang-orang yang berbuka sebelum halal puasa mereka (sebelum tiba waktu buka puasa) (Riwayat An-Nasa’I dalam Al-Kubra sebagaimana dalam tuhfatul Asyraf (4/166) dan Ibnu Hibban (no. 1800-zawahidnya) dan Al-Hakim (1/430) dari jalan Abdur Rahman bin Yazid bin Jabir, dari Salim bin Amir, dari Abu Umamah. Sanadnya shahih)

Adapun yang diriwayatkan bahwa Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): Barangsiapa berbuka satu hari saja pada bulan Ramadhan dengan sengaja, tidak akan bisa diganti walau dengan puasa sepanjang jaman kalau dia lakukan.

Hadits ini lemah, tidak shahih.

Yang Boleh Dilakukan Orang Yang Sedang Berpuasa

Seorang hamba yang taat yang faham Al-Qur’an dan sunnah tidak ragu bahwa Allah menginginkan kemudahan bagi hambanya dan tidak menginginkan kesulitan. Allah dan Rasul-Nya telah membolehkan beberapa hal bagi orang yang puasa, dan tidak menganggapnya suatu kesalahan jika mengamalkannya, Inilah perbuatan-perbuatan tersebut beserta dalil-dalilnya :

1. Seorang yang puasa dibolehkan memasuki waktu subuh dalam keadaan junub.

Diantara perbuatannya Shalallahu ‘alaihi wasallam masuk fajar dalam keadaan junub karena jima’ dengan istrinya, beliau mandi setelah fajar kemudian shalat.

Dari Aisyah dan Ummu Salamah radhiallahu ‘anhuma (yang artinya):

Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam memasuki waktu subuh dalam keadaan junub karena jima’ dengan istrinya, kemudian ia mandi dan berpuasa ( HR. Bukhori (4/123), Muslim (1109))

2. Seorang yang puasa boleh bersiwak

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya):

Kalaulah tidak memberatkan umatku niscaya aku suruh mereka untuk bersiwak setiap kali wudhu ( HR. Bukhori (2/311), Muslim (252) semisalnya)

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam tidak mengkhususkan orang yang puasa ataupun yang lainnya, ini sebagai dalil bahwa siwak bagi orang yang puasa dan lainnya ketika setiap wudhu dan shalat. (Inilah pendapat Bukhori rahimahullah, demikian pula Ibnu Khuzaimah dan selain keduanya. Lihat (Fathul Bari) (4/158) (shahih Ibnu khuzaimah) (3/247) (Syarhus Sunnah) (6/298) )

Demikian pula hal ini umum di seluruh waktu sebelum zawal (tergelincir matahari) atau setelahnya. Wallahu a’lam.

3. Berkumur-kumur dan memasukan air ke hidung.

Karena Beliau Shalallahu ‘alaihi wasallam berkumur dan beristinsyaq (memasukan air ke hidung) dalam keadaan puasa, tetapi melarang orang yang berpuasa berlebihan ketika istinsyaq Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya):

..bersungguh-sungguhlah dalam beristinsyaq kecuali dalam keadaan puasa. (HR. Tirmidzi (3/146), Abu Daud (2/308), Ahmad (4/32), Ibnu Abi Syaibah (3/101), Ibnu majah (407), An-Nasa’I (no. 87) dari Laqith bin Shabrah sanadnya SHAHIH)

4. Bercengkrama dan mencium istri.

Aisyah radhiallahu ‘anha pernah berkata: Rasulullah mencium dalam keadaan puasa dan bercengakrama dalam keadaan puasa, akan tetapi beliau adalah orang yang paling bisa menahan diri. ( HR Bukhori (4/131), Muslim (1106) )

Seorang pemuda dimakruhkan berbuat demikian.

Abdullah bin Amr bin ‘Ash berkata: Kami pernah berada di sisi Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam : Datanglah seorang pemuda seraya berkata: Ya Rasulallah bolehkah aku mencium dalam keadaan puasa ? Beliau menjawab:Tidak, datang pula seorang yang sudah tua dia berkata:Ya Rasulullah: Bolehkah aku mencium dalam keadaan puasa? Beliau menjawab: Ya ; sebagian kamipun memandang kepada teman-temannya, maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda (yang artinya): Sesungguhnya orang tua bisa menahan dirinya. (HR Ahmad (2/185, 221) dari jalan Ibnu Lahiah dari Yazid bin Abi Hubaib dari Qaishar At-Tufibi darinya. Sanadnya dhaif karena dhaifnya Ibnu Lahiah, tapi punya syahid dalam riwayat Thabrani di al-Kabir (11040) dari jalan Habib bin Abi Tsabit dari Mujahid dari Ibnu Abbas, Habib seorang mudallis dan telah an anah dengan syahid ini hadits jadi hasan, lihat harus- Al-Faqih Wal Mutafaqih (192-193) .)

5. Mengeluarkan darah, suntikan yang tidak mengandung makanan (Lihat Risalaatani Mujizatani fiz-zakaat washshiyam (hal.23) Syaikh Abdul Aziz bin Bazz)

Semua ini bukan pembatal puasa. Lihat pada pembahasan di halaman 50 (buku aslinya pent)

6. Berbekam

Dulu bekam merupakan salah satu pembatal wudhu, kemudian dihapus, telah ada hadits shahih dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa beliau berbekam ketika puasa, berdasarkan satu riwayat dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma:

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berbekam dalam keadaan puasa. (HR. Bukhari (4/155 Fath), lihat Nasikhul hadits wa mansukhuhu (334-338) karya Ibnu Syakin)

7. Mencicipi makanan

Ini dibatasi selama tidak sampai tenggorokan, karena riwayat dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma:

Tidak mengapa mencicipi sayur atau sesuatu yang lain dalam keadaaan puasa selama tidak sampai ke tenggorokan. ( HR. Bukhari secara muallaq (4/154-fath), dimaushulkan Ibnu Abi Syaibah (3/47), Baihaqi (4/261) dari dua jalannya. Hadits hasan, lihat Taqliqut Taqliq (3/151-152) )

8. Bercelak dan tetes mata dan lainnya yang masuk ke mata

Benda-benda ini tidak membatalkan puasa, baik rasanya dirasakan di tenggorokan atau tidak, inilah yang dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam risalahnyaa yang bermanfaat Haqiqatus Shiyam serta muridnyaa Ibnu Qoyyim dalam kitabnya Zaadul Maad, Imam Bukhari berkata dalam kitab Shahihnya ( (4/153-Fath) gandengkan dengan (Mukhtasar Shahih Bukhari) (451) Syaikhuna Al-Albani, Taqliqut Taliq (3/152-153) ) : Anas bin Malik, Hasan Al-Bashri dan Ibrahim An-Nakhai memandang tidak mengapa bagi yang berpuasa.

9. Mengguyurkan air dingin ke atas kepalanya dan mandi

Bukhari menyatakan di dalam kitab Shahihnya Bab mandinya orang yang puasa, Umar membasahi bajunya (Membasahi dengan air, untuk mendinginkan badannya karena haus ketika puasa) kemudian dia memakainya ketika dalam keadaan puasa, As Syabi masuk kamar mandi dalam keadaan puasa, Al-Hasan berkata: Tidak mengapa berkumur-kumur dan memakai air dingin dalam keadaan puasa.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengguyurkan air ke kepalanya dalam keadaan puasa karena haus atau kepanasan, (HR. Abu Dawud (2365), Ahmad (5/376,380,408,430) sanadnya SHAHIH)

Yang Diperbolehkan UntukTidak Puasa

(ALLAH MENGINGINKAN KEMUDAHAN BAGI KALIAN DAN TIDAK MENGINGINKAN KESULITAN)

1. Musafir

Banyak hadits shahih membolehkan musafir untuk tidak puasa, Kita tidak lupa bahwa rahmat ini disebutkan di tengah kitab yang mulia, Allah berfirman: (yang artinya):

Barangsiapa yang sakit atau dalam safar gantilah pada hari yang lain, Allah menginginkan kemudahan bagi kalian dan tidak menginginkan kesulitan. (QS. Al Baqarah:185)

Hamzah bin Amr Al-Aslami bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam : Apakah boleh aku berpuasa dalam safar? -dia banyak melakukan puasa- maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda (yang artinya): Puasalah jika kamu mau dan berbukalah kalau mau. (HR Bukhari (4/156), Muslim (1121) )

Dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu berkata: Aku pernah melakukan safar bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di bulan Ramaadhan, orang yang puasa tidak mencela yang berbuka dan yang berbuka tidak mencela yang puasa. (HR Bukhari (4/163), Muslim (1118))

Hadits-hadits ini menunjukkan bolehnya memilih, tidak menentukan mana yang afdhal, namun mungkin kita nyatakan juga afdhal adalah berbuka dengan hadits-hadits yang umum; seperti sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam (yang artinya):

Sesungguhnya Allah senang didatangi rukhsah (keringanan) yang ia berikan, sebagaimana membenci orang yang melakukan maksiat. (HR Ahmad (2/108), Ibnu Hibban (2742) dari Ibnu Umar dengan sanad yang SHAHIH)

Dalam satu riwayat yang lain: Sebagaimana Allah senang diamalkannya perkara-perkara yang diwajibkan. (HR Ibnu Hibban (354), Bazzar (990), Thabrani di (Al-Kabir) (11881) dari Ibnu Abbas, dengan sanad yang SHAHIH. Dalam hadits dengan dua lafadznya ini- ada pembicaraan yang panjang bukan di sini tempat menjelaskannya)

Tapi mungkin hal ini dibatasi bagi orang yang tidak merasa berat dalam mengqadha dan menunaikannya, agar rukhshah tersebut tidak melencengkan dari maksudnya. Hal ini telah dijelaskan segamblang-gamblangnya, dalam satu riwayat Abu Said Al-Khudri Radhiallahu ‘anhu : Para shahabat berpendapat barangsiapa yang merasa kuat kemudian puasa itu baik, dan barangsiapa yang merasa lemah kemudian berbuka juga bagus. (HR Tirmidzi (713), Al-Baghawi (1763) dari Abu Said, sanadnya SHAHIH, walaupun dalam sanadnya ada Al-Jurairi, riwayat Abdul A’la darinya termasuk riwayat yang paling shahih sebagaimana dikatakan oleh Al-ijili dan lainnya)

Ketahuilah saudaraku seiman mudah-mudahan Allah membimbingmu ke jalan petunjuk dan ketaqwaan serta memberikan rizki berupa pemahaman dalam agama- sesungguhnya puasa dalam safar jika memberatkan hamba bukanlah suatu kebajikan sedikitpun, tapi berbuka lebih utama dan lebih disenangi Allah, yang menjelaskan masalah ini adalah riwayat dari beberapa orang shahabat, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda (yang artinya):

Bukanlah suatu kebajikan melakukan puasa dalam safar. (HR Bukhari (4/161), Muslim (1110) dari Jabir)

Peringatan

Sebagian orang ada yang menyangka bahwa pada zaman kita sekarang tidak diperbolehkan berbuka, hingga mencela orang yang mengambil rukhsah tersebut, atau berpendapat puasa itu lebih baik karena mudah dan banyaknya sarana transportasi saat ini, orang-orang seperti ini perlu kita usik ingatan mereka kepada firman Allah Yang Maha Mengetahui perkara ghaib dan nyata (yang artinya): Rabmu tidak pernah lupa. (QS. Al-Maryam:64) dan firman-Nya (yang artinya): Allah telah mengetahui sedangkan kalian tidak mengetahuinya. (QS. Al-Baqarah:232)

Dan perkataan-Nya di tengah ayat tentang rukhshah berbuka dalam safar (yang artinya): Allah menginginkan kemudahan bagi kalian dan tidak menginginkan kesulitan. (QS. Al- Baqarah:185)

Yakni: Kemudahan bagi orang yang safar adalah perkara yang diinginkan, ini termasuk salah satu tujuan syariat, cukup bagimu bahwa Dzat yang mensyariatkan agama ini adalah pencipta zaman, tempat dan manusia, Dia lebih mengetahui kebutuhan manusia dan apa yang maslahat bagi mereka. Allah berfirman (yang artinya): Tidakkah kalian tahu siapa yang mencipta Dialah Yang Maha Lembut dan Maha Mengetahui. (QS. Al-Mulk:14)

Aku bawakan masalah ini agar seorang muslim tahu jika Allah dan Rasul-Nya sudah menetapkan suatu perkara, tidak ada pilihan lain bagi manusia bahkan Allah memuji hamba-hamba-Nya yang mu’min yang tidak mendahulukan perkataaan manusia di atas perkataan Allah dan Rasul-Nya:

Wahai Rabb kami mendengar dan taat, ampunilah kami, wahai Rabb kepada-Mu-lah kami kembali. (Al-Baqarah:285)

2. Sakit

Allah membolehkan orang yang sakit untuk berbuka sebagai rahmat dari-Nya, kemudahan bagi orang yang sakit, sakit yang membolehkan berbuka adalah sakit yang bila dibawa berpuasa akan menyebabkan satu madharat atau semakin parah penyakitnya atau dikhawatirkan terlambat kesembuhannya. Wallahu A’lam.

3. Haid dan Nifas

Ahlul Ilmi telah ijma bahwa orang yang haid dan nifas tidak dihalalkan puasa, keduanya harus berbuka dan mengqadha kalaupun keduanya puasa tidaklah sah (Lihat penjelasana di atas mengenai perkara yang merusak puasa).

4. Kakek dan Nenek yang sudah tua

Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma berkata: Kakek dan nenek tua yang tidak mampu puasa harus memberi makan setiap harinya seorang miskin. (HR Bukhari (4505), lihat Syarhus Sunnah (6/316), Fathul Bari (8/180), Nailul Authar (4/315), Irwaul Ghalil (4/22-25), Ibnul Mundzir menukil dalam Al-Ijma (no.129). Akan adanya ijma dalam maslah ini)

Diriwayatkan dari Daruquthni (2/207) dan dishahihkannya, dari jalan Manshur dari Mujahid dari Ibnu Abbas, beliau membaca: (yang artinya): Orang-orang yang ridak mampu puasa harus mengeluarkan fidyah makanan bagi orang miskin. (QS. Al-Baqarah:184)

Kemudian beliau berkata: Yakni lelaki tua yang tidak mampu puasa dan kemudian berbuka, harus memberi makan seorang miskin setiap harinya sha gandum. (Lihat ta’liq barusan).

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu: Barangsiapa yang mencapai usia lanjut dan tidak mampu puasa Ramadhan, harus mengeluarkan setiap harinya 1 mud gandum. (HR Daruquthni (2/208) dalam sanadnya ada Abdullah bin Shalih, dia dhaif, tapi punya syahid)

Dari Anas bin Malik: Beliau lemah (tidak mampu untuk puasa) pada suatu tahun, kemudian beliau membuat satu wadah Tsarid, dan mengundang 30 orang miskin hingga mereka kenyang. (HR Daruquthni (2/207), sanadnya SHAHIH)

5. Orang hamil dan menyusui

Di antara rahmat Allah yang agung kepada hamba-hamba-Nya yang lemah, Allah memberi rukhshah pada mereka untuk berbuka, dan di antara mereka adalah orang hamil dan menyusui.

Dari Anas bin Malik (Dia adalah Al Ka’bi, bukan Anas bin Malik Al-Anshori, pembantu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam , tapi ini adalah seorang pria dari Bani Abdullah bin Ka’ab, pernah tinggal di Bashrah, beliau hanya meriwayatkan 1 hadits saja dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam , yakni hadits di atas. Lihat Al-Ishabah (1/114-115) karya Ibnu Hajar, Tajridu Asmais Shahabah (1/13) karya Adz Dzahabi, gandengkan bersama Fathul Qadiir (2/268) keduanya da perbedaan yang halus)

Kudanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mendatangi kami, akupun mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam , aku temukan dia sedang makan pagi, beliau bersabda: mendekatlah, aku akan ceritakan kepadamu tentang masalah puasa. Sesungguhnyaa Allah Tabaroka wa Ta’ala menggugurkan shalat atas orang musafir, menggugurkan atas orang hamil dan menyusui kewajiban puasa. Demi Allah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah mengucapkan keduanya atau salah satunya, aduhai lahfa jiwaku kenapa tidak makan makanan nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam . (HR Tirmidzi (715), Nasai (4/180), Abu Dawud (3408), Ibnu Majah (16687). Sanadnya HASAN sebagimana pernyataan Tirmidzi)

Wajib BerniatSebelum Waktu Subuh Untuk Puasa Ramadhan

Jika telah jelas masuknya bulan Ramadhan dengan penglihatan mata atau persaksian atau dengan menyempurnakan bulan Sya’ban menjadi tiga puluh hari, maka wajib atas setiap muslim yang mukallaf untuk berniat puasa di malam harinya, berdasarkan sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam (yang artinya):

Barangsiapa yang tidak berniat sebelum fajar untuk puasa maka tidak ada puasa baginya. (HR Abu Daud (2454), Ibnu Majah (1933), Al-Baihaqi (4/202), dari jalan Ibnu Wahab, dari Ibnu Lahi’ah dan Yahya bin Ayyub dari Abdullah bin Abi Bakar bin Hazm dari Ibnu Sihab, dari Salim bin Abdillah dari bapaknya dari Hafshah dalam satu lafadz dalam riwayat At-thahawiyah di Syarhu Ma’anil Atsar (1/54): berniat dimalam dari jalan sendiri. Diriwayatkan pula oleh An-Nasa’I (4/196), Tirmidzi (730) dari jalan lain dari Yahya, sanadnya SHAHIH)

Dan Sabdanya (yang artinya):

Barangsiapa yang tidak berniat puasa pada malam harinya maka tidak ada puasa baginya. (HR An-Nasa’I (4/196), Al-Baihqi (4/202), Ibnu Hazm (6/162), dari jalan Abdur Razaq dari Ibnu Juraij dari Ibnu Syihab. Sanadnya SHAHIH kalau tidak ada ‘an ‘anah Ibnu Juraij, akan tetapi shahih dengan riwayat sebelumnya)

Niat itu tempatnya di hati, melafadzkannya adalah bid’ah yang sesat walaupun manusia menganggapnya baik, kewajiban untuk berniat sejak malam itu khusus bagi puasa wajib, karena Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam pernah datang ke Aisyah selain bulan ramadhan beliau berkata: Apakah engkau punya santapan siang ? kalau tidak ada, aku berpuasa (HR Muslim (1154))

Hal in juga dilakukan oleh para shahabat: Abu Darda’, Abu Thalhah, Abu Hurairah, Ibnu Abbas, Hudzaifah bin al-Yaman radhiallahu ‘anhum kita dibawah bendera sayyidnya bani Adam. (Lihatlah dan takhrijnya dalam Taghliq Taqliq (3/144-147)

Ini berlaku dalam puasa sunnah menunjukan wajibnya niat di malam hari sebelum terbit fajar dalam puasa wajib, Wallahu Ta’ala A’lam.

Sumber : http://www.salafyoon.net

Baca juga artikel terkait :

Hadis Lemah atau Palsu Tentang Puasa Ramadhan

Mari Bersemangat Puasa Dengan Keutamaan Puasa Ramadhan


TAGS puasa Ramadhan


-

Search

Tulisan Baru