photo bannercreator-nu1_zpsuf9u53ms.gif

Alam Semesta Banyak Dimensi / Bagaikan Hologram, dan Mengakui Adanya Tuhan

3 Aug 2011

Menarik sekali membaca artikel-artikel ilmiah yang didapatkan belakangan ini (dalam bahasa Inggris), yang bisa dijadikan bahan renungan akan adanya Tuhan, walaupun saya tak bisa memahami keseluruhannya (karena kurangnya ilmu fisika yang dibutuhkan, terutama fisika kuantum,untuk memahami hal tersebut), di antaranya tentang teori bahwa alam semesta itu ada banyak dimensi, bagaikan hologram (baca dengan mengklik DISINI atau klik Multiverse Theory). Baca juga usaha untuk membuktikan bahwa benda bisa berada di dua tempat yang berbeda dalam satu waktu klik DISINI). Hal ini menarik sekali bagi saya, tak hanya karena memang terdengar menarik dan memancing imajinasi di pikiran, tapi ada korelasi dengan apa yang pernah saya pikirkan sebelumnya menyangkut adanya Tuhan, alam semesta, beserta manusia di dalamnya.

Perlu pembaca ketahui, bahwa di negara barat (Amerika atau Eropa), boleh dikatakan lebih dari setengah penduduknyabarangkali (berdasarkan hasil survei dari berita yang pernah saya baca, maaf link tak saya simpan)yang meragukan adanyaTuhan, baik yang sekedar tak yakin/ragu-ragu tapi masih mengakui identitasnya sebagai pemeluk agama, maupun yang nyata-nyata menyatakan dirinya sebagai atheis (tak mengakui adanya Tuhan). Nau’dzubillahi min dzalik.

Saya adalah muslim, dan alhamdulillah Al Quran menjadi tameng penting dalam menghadapi gempuran pemikiran orang-orang anti Tuhan yang saat ini telah merajalela hingga ke dunia keilmiahan. Ketika Allah mengungkapkan tanda-tanda kebesarannya sebagai bahan renungan, pikiran, dan pelajaran bagi kita semua yang tertuang melalui ayat-ayat Nya yang indah dan mulia, sungguh manusia jika tanpa hidayah dari Nya benar-benar bisa menjadi sangat sesat dengan tidak mengakuiadanya Tuhan. Semata-mata karena hawa nafsu, ‘buta’ hati dan pikiran, dan dengan alasanTuhan tak bisadilihat langsung dengan mata kepala mereka sendiri.

Sungguh, ini sebenarnya hanya pengulangan sejarah, sebagaimana orang-orang terdahulu yang ingkar pernah mengatakan hal-hal yang serupa kepada para Nabi dan Rasul yang diutus Allah kepada mereka.

Dan (ingatlah) ketika kamu berkata : “Hai Musa, kami tak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan jelas…..” (QS Al Baqarah : 55).

Atau serupa dengan ucapan-ucapan mereka kepada para nabi dan rasul sebelumnya dengan ucapan :

“…apabila kami telah menjadi tanah, apakah kami sesungguhnya akan (dikembalikan) menjadi makhluk yang baru ?…..(QS Ar’ Ra’d : 5).

Mereka lupa dan lalai dari melihat tanda-tanda kebesaran Tuhan yang ada di alam. Akhirnya mereka pun menjadi sesat dan binasa.

Katakanlah, “Berjalanlah di muka bumi, kemudian perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu.” (QS Al An’aam : 11)

Dan betapa banyak (penduduk) negeri yang sudah bersenang-senang dalam kehidupannya yang telah Kami binasakan, maka itulah tempat kediaman mereka yang tidak didiami (lagi) setelah mereka, kecuali sebagian kecil. Dan Kamilah yang mewarisinya. (QS Al Qasas : 58)

Yakni jika kita berjalan di muka bumi akan kita temui berbagai bekas peradaban hebat yang pernah ada, namun hancur binasa tinggal menyisakan puing-puing belaka. Bahkan banyak dari lokasi tersebut tak lagi pernah didiami oleh kehidupan.

Dan Tuhanmu tidak akan membinasakan negeri-negeri, sebelum Dia mengutus seorang rasul di ibukotanya yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka; dan tidak pernah (pula) Kami membinasakan (penduduk) negeri; kecuali penduduknya melakukan kezaliman. (QS Al Qasas : 59)

Manusia terkadang menjadi sombong dan angkuh dengan dirinya sendiri. Merasa pemikiran mereka lah yang paling hebat, sehingga sampai-sampai tak mengakui adanya Tuhan. Padahal tidak ada yang diketahui manusia sebenarnya, kecuali sangat sedikit, tak terkecuali oleh para ilmuwan dan pakar di bidang masing-masing. Banyak hal yang masih menjadi misteri dan tak bisa dijelaskan oleh para pakar terkemuka baik fisika maupun biologi tentang alam semesta danmakhluk hidupdi dalamnya.

Manusia hanya bisa berpikir sebatas kemampuan otaknya saja, dan ia berpikir menurut apa yang otak nya persepsikan. Manusia melihat dengan matanya yang sebenarnya memiliki kemampuan pandangan terbatas (hanya bisa menjangkau rentang cahaya tampak, tak bisa yang frekuensi cahayanya lebih rendah atau lebih tinggi). Begitu juga dengan indera lain seperti pendengaran, penciuman yang sangat terbatas dimana ada banyak hewan-hewan lain yang lebih hebat dari manusia. Seandainya manusia memakai alat bantu untuk memahami hal-hal di luar kemampuan alaminya, maka pastinya itupun jugadibatasi kemampuan alat bantu tersebut. Di luar hal itu, manusia tak tahu apa-apa dengan pasti, dan hanya bisa mereka-reka atau berkira-kira saja. Benarlah kiranya firman Allah dalam Al Qur’anpemikiran orang-orang yang tak beriman tersebut.

…..mengapa kamu telah mendustakankan ayat-ayat-Ku, padahal kamu tidak mempunyai pengetahuan tentang itu…(QS An Naml : 84)

Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan (QS Yunus : 36)

Di antara alasan orang yang sulit mengakui adanya Tuhan adalah jika Tuhan menciptakan segala sesuatu, lalu sebelum itu siapa yang menciptakan Tuhan ? Naudzubillahi min dzalik, sungguh luar biasa ucapan yang keluar dari mulut-mulut mereka.

Luar biasa karena mereka kelak akan tahu akibat dari ucapan mereka tersebut jika tidak bertobat.

Agar jangan ada yang mengatakan, Alangkah besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah, dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang memperolok-olok (agama Allah). Atau (agar jangan) ada yang berkata ketika melihat azab, Sekiranya aku dapat kembali (ke dunia), tentu aku termasuk orang-orang yang berbuat baik. (QS Az Zumar ayat 56 dan 58)

Dan luar biasa juga karena mereka berkata seperti itu dengan mengandalkan pola pikirnya yang cacat, padahal jelas-jelas nyata kesempurnaan alam semesta yang tertata rapi, terkontrol,tanpaketimpangandari tingkat gugusan galaksi sampai kepada sel-sel tubuh dan partikel-partikel terkecil atom. Dan luar biasa karena mereka tak sadar merekasemuanya hanyalah manusia,yang berpikirjuga dalam kerangka manusia, yang kesemua indera dan otaknya memiliki keterbatasan sehingga hanya mampu berpikir dalam koridor kemampuan seorang manusia.

Kembali kepada pembahasan model alam semesta di atas secara ilmu fisika, baik yang menyatakan adanyabanyak alam semesta dengan dimensi yang berbeda atau yang menyatakan alam semesta dan segala yang ada di dalamnya tak ubahnya sebuah hologram, bagi saya itu hanya memperjelas betapa kecil dan tak berdayanya manusia di alam semesta inisekaligusmenambah tanda-tanda kebesaranSang Pencipta.

Saya pernah berpikir seperti ini sebelumnya sebagai sebuah argumen yang ditujukan kepada orang yang mempertanyakan eksistensi Tuhan sebagaimana pertanyaan siapa yang menciptakan Tuhandan dimana Tuhan sebelum alam diciptakan? Waktu itu saya membuat berbagai analogi / perumpamaanyang bertujuan untuk menunjukkan bahwamanusiaitu makhluk memiliki yang pengetahuan yang terbatas.

Di antara hal-hal yang muncul di otak saya untuk contoh perumpamaan adalah manusia dengan produk hasil buatannya, misalnya suatu program komputer untuk sebuah permainan (game). Tokoh-tokoh di dalam program game tersebut hanya bisa melakukan apa-apa yang telah diprogramkan kepadanya oleh programmer (pembuat program). Terlepas dari itu ia tak akan bisa apa-apa, dan tak tahu apa-apa. Tokoh-tokoh dalam program tersebut tak mungkin tahu dengan “dunia nyata” di luar dunia mereka. Mereka tak akan tahu tentang keberadaan mereka di dalam sebuah program, tentang bagaimana manusia memainkannya dalam sebuah komputer, tentang bagaimana danseperti manusia pembuat mereka, kecuali memang sengaja diprogramkan (”diberi tahu”) oleh sang programmer.

Segala hukum alam di dalam kehidupan tokoh-tokoh game tersebut juga berbeda dengan hukum alam sejati yang ada pada kehidupan manusia pembuatnya. Jika tokoh permainan bisa seenaknya “dihidupkan kembali” atau direset setelah “mati”, maka mereka tidaklah mengerti bahwa hal seperti itu tak ada dalam kehidupan para pembuat mereka,dimana manusia hanya bisa hidup dan mati hanya sekali.

Mengambi dari analogi di atas, maka konsep segala sesuatu atau hukum yang terjadi di alam tak bisa diterapkan dalam memahami Sang Pencipta. Manusia pastinya dalam berpikir dan menganalisa tak terlepas dengan hukum-hukum alam yang ada pada mereka, dan itupun terbatas dari yang mereka mengerti. Jika di kehidupan manusia berlakuhukum dimana suatu kehidupan itu muncul dari sebuah ketiadaan lalu setelah itu mati, maka hal itu tak bisa diperlakukan dalam memahami Tuhan.

Bagaikan suatuorang-orangan mainan yang diberikan kemampuan berpikir terbatas yang ditempatkan dalam sebuah kotak kecil di dalam kotak yang lebih besar lagi. Untuk mengerti kotak besar yang menyelimuti kotak kecil naungan tempat tinggal mereka saja mereka mungkin tak sepenuhnya bisa memahami, apalagi untuk memahami yang ada di luar kotak besar, seperti misalnya sebuah ruangan kamar di mana kotak besar itu ditempatkan. Bahkan lebih luas lagi yakni rumah, kemudian suasana se kampung, se-kota, se-negara, se-benua, sebuah planet, pastinya orang-orangan di dalam kotak kecil itu sama sekali tak memiliki pengetahuan tentang itu.

Teori yang menunjukkan bahwa alam semesta ada banyak dengan menempati berbagai dimensi yang berbedabesertahukum alam yang mungkin berbeda, kemudian teori lain yang menyebutkan alam semestabagaikan hologram datar dua dimensi (sehingga manusia pun dianggap sebagai bagian gambar hologram), hanya menambah keyakinan sayabahwa benar-benar manusia itu hanya terkungkung di alam yang ia tempati. Manusia tak akan pernah bisa memahami segala sesuatunya dengan mutlak, dan akibatnya tak seharusnya ada ruang yang mempertanyakan adanya tidaknya Tuhan.

Mengambil teori alam semesta ada banyak dimensi bagaikan hologram tersebut, bagaimana mungkin gambar-gambar di dalam hologram yang kita pegang mengerti dengan hakekat kehidupan yang ada di kehidupan kita yang ada di luar lingkup hologram; seperti itulah kiranya perumpamaan manusia yang tak akan bisa mengerti hakekat Tuhan Yang Maha Esa, kecuali melalui apa yang Ia jelaskan dan ajarkan pada manusia melaui para nabi/rasul dan kitab suci yang diturunkanNya.


TAGS teori fisika alam semesta kebesaran Allah


-

Search

Tulisan Baru