photo bannercreator-nu1_zpsuf9u53ms.gif

Sholat Jamaah dan Kondisi Kualitas Umat Islam

27 Sep 2011

Sholat jamaah atau sholat secara bersama-sama yang dikomandoi seorang imam adalah bagian dari ajaran Islam. Sholat jamaah terutama yang dilakukan di masjid adalah sangat penting di dalam Islam. Dari segi hukum, tak sedikit ulama sejak zaman dahulu kala yang menetapkan wajibnya sholat fardhu (wajib) secara berjamaah bagi lelaki yang sudah baligh, yang tak memiliki halangan yang dibenarkan secara syar’i (walau hal ini sudah luntur dan nyaris diabaikan umat Islam saat ini). Dari segi posisi ibadah, sholat secara berjamaah juga memiliki nilai pahala yang jauh lebih besar (27 kali lipat) dibandingkan sholat secara sendirian. Dan sholat jamaah adalah perwujudan kasih sayang dan kebijaksaan Yang Maha Kuasa untuk menanamkan nilai-nilai penting yang baik kepada para hambaNya. Pada akhirnya sholat jamaah dan kondisi umat Islam adalah dua hal yang sangat berkaitan, dimana bagaimana kondisi dan kualitas sholat jamaah yang dilakukan akan menentukan dan juga dapat dijadikan tolak ukur kualitas umat Islam di saat itu.

Sholat jamaah sebenarnya memiliki nilai-nilai mulia dan baik, yang secara langsung atau tak langsung akan membekas bagi orang-orang yang rutin menjalankannya dengan baik. Jika mau untuk merenung dalam memahami nilai-nilai besar yang terkandung di dalamnya, maka akan tampak bagaimana kebesaran Allah dan kebijaksanaanNya dalam mendidik para hambaNya.

Ada pembelajaran atau proses pembentukan nilai-nilai yang penting dalam kehidupan sosial bermasyarakat di dalam sholat berjamaah. Dalam sholat berjamaah, makmum wajib mengikuti semua komando dan gerakan imam, bahkan tak boleh mendahuluinya sedikitpun jika tak ingin pahala sholat berjamaahnya sia-sia. Hal ini sebenarnya adalah penanaman pentingnya seorang pemimpin dalam struktur dan kehidupan bermasyarakat dalam segala tingkatannya, dimana hanya dengan keberadaan seorang pemimpin terjadilah keserasian dan keselarasan dalam kehidupan sebagaimana rapi dan indahnya gerakan serentak dan teratur makmum mengikuti perpindahan gerakan imam dalam sholat. Allah juga mengajarkan pada kita melalui sholat berjamaah, bahwa tujuan bersama-sama dalam masyarakat hanya akan tercapai melalui sebuah persatuan di bawah tali kepemimpinan, dan hendaknya yang dipimpin wajib mengikuti pimpinannya tanpa terkecuali.

Dan berpegang teguhlah kamu sekalian kepada tali Allah dan janganlah kamu bercerai-berai....” (Al Quran, Ali Imran : 103)

Tanpa kepatuhan pada pemimpin maka akan rusak dan cerai berailah suatu kehidupan bermasayarakat sebagaimana rusaknya pahala sholat berjamaah orang yang tak mengikuti atau mendahului gerakan imam, sebagaiman menjadi rusak, tak teratur, dan tak indahnya sholat berjamaah jika kita membayangkan makmum tak serentak mengikuti gerakan imam dalam sholat. Jikalau pemimpin melakukan bertindak salah, Allah pun mengajarkan agar tak serta merta, tak bergegas, dan tak disertai emosi menghadapinya, tapi Allah mengajarkan agar bisa mengingatkan dan menasihati pemimpin melalui jalan yang bijak sebagaimana yang telah diajarkanNya berserta rasulNya. Ada cara tertentu yang telah ditetapkan untuk memberitahu imam yang salah, dengan ucapan Subhanallah (Maha Suci Allah) bagi makmum lelaki atau tepukan pada satu tangan bagi makmum wanita. Perhatikanlah bagaimana imam yang salah tetap diikuti oleh makmum yang ada, bahkan untuk menasehati nya pun dengan sangat santun dan terucap nama kebesaran dan kesucian Ilahi di dalamnya melalui ucapan tasbih. Tak boleh ada kegaduhan ketika imam salah dalam sholat, bahkan seandainya imam tetap tak menyadari kekeliruannya setelah diberi kode oleh makmum tetap saja sholat sah untuk dilanjutkan, dan tetap saja makmum mutlak mengikuti imam dalam setiap gerakannya hingga selesai. Maka begitulah Allah mengajarkan kepada umatNya agar menghormati setiap orang yang diangkat menjadi pimpinan dan segala urusannya, baik di rumah tangga, lingkungan perumahan, desa, kota, hingga sebuah negara. Jangan serta merta membuat kegaduhan dan menyulut api agar semakin panas dan berkobar setiap kali kita menganggap pemimpin mengambil jalan yang salah. Yang ada kemudian hanyalah huru hara, kekacauan, perpecahan, sehingga program kepemimpinan tidak berjalan, dan stabilitas keamanan dan kesejahteraan masyarakat akan terganggu dan menurun kualitasnya. Yang ada hanyalah Allah mengajarkan umatNya agar bersabar menghadapi pemimpin tersebut, sambil menasehatinya dengan bijak tanpa menelanjangi kehormatan orang-orang yang telah dianugerahi posisi kepemimpinan tersebut. Tetap patuh pada mereka dalam segala urusan dunia secara mutlak dengan bersabar, dan tidak patuh terhadap keputusan yang menyalahi aturan Allah dalam dosa tapi tetap tidak dengan menunjukkan sikap pembangkangan terhadap mereka.

Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam bersabda:

??????? ????????????? ?????????? ???????????????? ?????????????????? ?????????????????? ??????????????????. ??????: ??? ???????? ?????? ??????? ????????????? ???????????? ???????: ???? ??? ?????????? ???????? ??????????? ??????? ?????????? ???? ??????????? ??????? ?????????????? ??????????? ???????? ????? ?????????? ????? ???? ???????

Sejelek-jelek pemimpin kalian adalah yang kalian membencinya dan mereka membenci kalian, yang kalian melaknatinya dan mereka melaknati kalian. Dikatakan kepada beliau: Wahai Rasulullah, tidakkah kita melawannya dengan pedang (senjata)? Beliau mengatakan: Jangan, selama mereka mendirikan shalat di tengah-tengah kalian. Jika kalian melihat pada pemimpin kalian sesuatu yang kalian benci maka bencilah perbuatannya dan jangan kalian cabut tangan kalian dari ketaatan. (Shahih, HR. Muslim)

Seorang sahabat Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam, bernama Al-Irbadh Radhiyallah anhu mengatakan:

?????? ????? ??????? ????? n ????? ?????? ????? ???????? ????????? ??????????? ?????????? ????????? ???????? ??????? ?????????? ?????????? ??????? ?????????? ??????? ???????: ??? ??????? ?????? ??????? ?????? ?????????? ?????????? ???????? ???????? ?????????? ???????: ?????????? ????????? ????? ??????????? ???????????? ?????? ??????? ?????????? ????????? ???? ?????? ???????? ??????? ????????? ??????????? ????????? ???????????? ?????????? ????????? ???????????? ??????????????? ????????????? ??????????? ????? ????????? ????????? ?????????????? ???????????? ????????????? ?????????? ??????? ????? ?????????? ???????? ??????? ???????? ?????????

Suatu hari Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam shalat mengimami kami, lalu beliau menghadapkan wajahnya kepada kami seraya memberikan nasihat kepada kami dengan nasihat yang sangat mengena. Air mata berderai dan qalbu pun bergoncang karenanya. Maka seseorang mengatakan: Wahai Rasulullah, seakan-akan ini adalah nasihat perpisahan. Lalu apa wasiat anda kepada kami? Beliau Shallallahu alaihi wa Sallam bersabda: Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Taala, mendengar dan taat (kepada penguasa) sekalipun dia seorang budak sahaya dari Habasyah (sekarang Ethiopia, red.). Karena siapa saja yang hidup sepeninggalku, dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka tetaplah kalian pada sunnahku dan sunnah (tuntunan) para khulafaur-rasyidin yang mendapat petunjuk. Berpeganglah dengannya dan gigitlah dengan gigi-gigi geraham kalian, serta jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang baru (dalam Islam), karena segala yang baru tersebut adalah bidah dan segala yang bidah adalah kesesatan. (Shahih, HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan yang lain).

Bersabar, hingga kemudian dengan sebab kesabaran tersebut dan dengan tetap teguh pada ketentuan Allah dan rasulNya akan datanglah pertolongan dari Allah dengan diberikan dan digantikan dengan pemimpin yang lebih baik, kemudian diangkatlah derajat masayarakat tersebut, sebagaimana umat-umat terdahulu telah ditolong oleh Allah akibat kesabaran mereka dengan datangnya bantuan dari Allah melalui turunnya Nabi-Nabi kepada mereka yang menyelamatkan dan mengangkat derajat mereka, sebagaimana pertolongan Allah kepada Bani Israil dengan Nabi Musa ‘alaihissalam, Daud ‘alaihissalam,dsb. Dan memang dengan kesabaran lah menjadi sempurna sebuah keimanan; dengan kesabaran lah umat muslim berhasil menaklukkan kaum kafir dan jahiliyah Arab di kala itu setelah sebelumnya benar-benar menderita luar biasa sampai-sampai nafas sudah sesak tak bisa bernafas dengan berujar kapankah pertolongan Allah itu datang. Dengan kesabaran diberilah pahala yang tiada batas dari Tuhannya; dan karena sabarlah seseorang pada akhirnya diberikan balasan surga.

(yaitu) syurga Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu, (sambil mengucapkan): Salamun alaikum bima shabartum (Selamat sejahtera atasmu dikarenakan kesabaranmu). Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (AL Qur’an, Ar Ra’d : 24)

Dalam sholat jamaah juga tertanam nilai-nilai persatuan umat. Tertanam di dalamnya nilai-nilai sosial bermasyarakat. Lihatlah bagaimana dalam sholat berjamaah makmum diharuskan merapatkan shaf nya sampai-sampai bahu satu dengan yang lainnya bersinggungan, dan kaki yang satu dengan yang lainnya bersentuhan, tanpa memberi rongga sedikitpun. Begitulah tuntunan agama yang benar dalam sholat berjamaah, namun sayang umat Islam saat ini banyak yang jahil dan tak paham atau pura-pura tak menganggap hal ini dengan serius, sehingga nyaris semua shaf antar orang satu dengan yang lain pasti ada celah. Padahal hal ini adalah hal yang sangat penting dan serius, dimana Rasulullah dan sahabatNya tak akan memulai sholat jamaah jika ada shaf yang bercelah. Ampunilah kami ya Allah, dimana pada saat ini orang-orang lebih memilih untuk mengambil tempat berdasarkan ruang-ruang yang diberikan oleh sajadah berbentuk karpet ketika sholat berjamaah, padahal dengan demikian antar makmum yang satu dengan yang lain terbentuk sebuah rongga yang besar, sehingga rusak lah sholat jamaah mereka. Ampunilah kami ya Allah, dimana saat ini begitu malasnya dan tak peduli nya umat pada urusan ini, nyaris dalam setiap kesempatan sholat jamaah (terutama sholat Jumat yang dipenuhi jamaah), penulis yang posisi awalnya berada di bagian shaf belakang, bisa berjalan dan beranjak dengan mudahnya dengan langkah santai hingga bisa sampai pada shaf depan sebelum sholat dimulai, semata-mata karena keengganan umat ini untuk mengambil tempat yang sebaik-baiknya pada shaf terdepan dengan segera, dan keengganan umat ini untuk segera merapatkan barisannya dalam sholat sehingga rongga-rongga besar terbentuk di antara mereka.

Kiranya hal ini adalah sebuah gambaran kondisi umat Islam berupa lemahnya agama dan persatuan umat disaat ini. Lemahnya umat untuk bersegera mengejar kebaikan, dan lemahnya umat untuk menjaga ketentuan agama mereka sehingga bolong-bolonglah posisi satu dengan yang lain. Jika setan bisa mengambil tempat pada shaf yang berongga dalam sholat jamaah, maka tak heran pasti orang-orang kafir dan munafik pembenci Islam dengan mudah menyusup dan menetap di antara umat Islam saat ini. Jika diriku yang hanya seorang yang rendah di sisi Mu bisa merengsek dengan mudahnya dari shaf terbelakang hingga berada di shaf terdepan, artinya pasti dengan sangat mudahnya tanpa kesusahan yang berarti orang-orang kafir yang hendak menghancurkan umat ini menyusup masuk dan mengambil tempat di umat ini. Tak heranlah jika umat Islam tak berdaya saat ini karena mereka sudah disusupi dimana-mana, disusupi dengan paham-paham yang salah, disusupi dengan provokasi-provakasi, dikepung dari segala penjuru, lemah di segala sisi, karena memang di antara mereka penuh dengan celah-celah yang longgar, yang semata-mata muncul akibat kesalahan umat Islam sendiri, yang lalai dengan agama mereka sendiri.

Ketika agama mengajarkan mereka untuk bahu membahu, “saling bersentuhan”, dan sejajar tanpa ada yang rendah dan tinggi ketika sholat berjamaah, tak peduli kaya miskin, tua muda, yang terhormat atau rakyat biasa, yang berbaju baru atau berbaju usang, yang wangi penuh wewangian atau yang berwangikan keringat akibat membanting tulang, maka mereka saat ini lebih memilih untuk “menjauh” satu sama lain dalam sholat jamaah. Entah dengan alasan masing-masing, semata-mata mungkin karena tak paham ilmu agama, atau barangkali ada yang ‘jijik’ atau tak nyaman bersentuhan dengan yang lain (naudzubillahi min dzalik), entahlah. Yang jelas begitulah kondisi nyata yang ada dalam setiap kesempatan sholat berjamaah di saat ini.

Dan sungguh kedekatan terhadap agama, kedekatan terhadap ilmu syar’i, ghirah yang tinggi terhadap kebaikan dan amal pasti akan membawa mereka untuk sholat jamaah dengan benar. Sebagaimana penulis sendiri mengalami sendiri ketika berada di dalam sebuah majelis ilmu yang didatangi hanya oleh orang-orang yang ingin mendekat ke Tuhannya, maka ketika waktu sholat datang, alangkah rapat dan rapinya barisan shaf mereka, sangat kokoh barisan-barisan mereka tanpa ada rongga. Subhanallah. Seandainya hal tersebut berlaku umum di dalam umat ini keseluruhan.

Adalah tak salah kiranya untuk melihat kualitas umat Islam di suatu tempat pada suatu waktu cukup dengan melihat bagaimana kualitas sholat jamaah mereka. Ramaikah mesjid-mesjid mereka diisi oleh umat yang hendak bersimpuh pada Tuhannya pada sholat-sholat fardu, serta bagaimanakah kualitas sholat jamaah mereka, terutama yang tampak nyata adalah barisan shaf-shaf mereka. Sungguh, jangan harap Islam akan kembali mulia dan berjaya, sampai datang masanya mesjid-mesjid kembali penuh dengan hamba-hambaNya di setiap kesempatan sholat fardhu, dan mereka bergegas dan berlomba untuk mendapatkan shaf terdepan, diikuti dengan shaf-shaf dan barisan sholat yang sangat rapat dan kokoh, melambangkan persatuan dan kesatu-hatian mereka untuk tunduk semata-mata pada Tuhan Yang Memiliki mereka.


TAGS Islam Muslim


-

Search

Tulisan Baru