photo bannercreator-nu1_zpsuf9u53ms.gif

Hidup Terkadang Tak Adil…Jangan Sedih dan Jangan Pula Lupa Diri

12 Oct 2011

Dalam kehidupan sehari-hari terkadang kita dihadapkan pada sebuah pernyataan “Life is not fair” atau “hidup itu tak adil”, termasuk menyangkut berbagai kejadian yang relevan dengannya. Apakah anda merasa setuju dengan pernyataan tersebut ? Siapa yang pernah berpikir atau merasakan hal yang sama ?

Dahulu ketika masih kecil banyak barangkali dari kita yang tak memikirkan atau tak menyadarinya. Terutama bagi mereka yang kehidupannya relatif damai sejahtera, tercukupi segala kebutuhan dari orang tuanya.

Adamoment-moment yang memantik atau memancing kesadaran saya akan sebuah realita ini, dimana salah satunya adalah ketika memiliki sahabat yang selama berhubungan dengannya terbukti menunjukkan kualitas intelektualnya. Hanya saja karena banyak sebab yang terkait erat dengan tidak adanya dukungan finansial maupun perhatian akan pendidikan dari orang tuanya, ia hanya bisa tamat SMA di kampung halamannya sehingga harus berjuang merantau ke kota seorang diri, mengenyam berbagai pekerjaan termasuk yang barangkali dianggap rendahan, dan sudah pernah berpindah-pindah kerja dari waktu ke waktu. Padahal, saya tahu bahwa kemampuan berpikir, daya nalar, kreativitas, sikap kritis, dan rasa ingin tahunya melebihi banyak mahasiswa atau lulusan universitas yang saya ketahui. “What a waste of talent !” Sebuah potensi yang tak termaksimalkan dari seorang anak bangsa yang berkualitas.

Semenjak saat itu setiap kali saya melihat anak-anak gelandangan atau yang meminta-minta di perempatan jalan, yang terbersit di pikiran adalah kehidupan yang memang tak adil bagi sebagian (banyak) orang. Saya masih ingat ketika masih remaja, ada teman yang berkata kira-kira begini kepada salah seorang anak kecil yang meminta-minta, “Dik, kalau ingin sukses (kaya/dapat uang) jangan minta-minta, tapi belajar di sekolah.” Ketika itu saya menganggap biasa saja atau merasa tak ada yang salah dari ucapan tersebut. Akan tetapi, saat ini saya pasti akan mengkiritisinya.

Saya yakin di antara anak-anak gelandangan dan pengemis itu banyak yang ingin bersekolah seperti anak-anak lain yang sebaya dengan mereka. Di antara mereka itu jga tak sedikit yang memiliki rasa ingin tahu atau semangat belajar yang besar. Pernah saya temukan, anak-anak kecil yang biasanya meminta-minta atau berjualan di perempatan jalan berkumpul bersama teman-temannya membaca dengan serius berita atau artikel di surat kabar, walaupun dengan terbata-bata, sambil bersimpuh di trotoar jalan. Sebenarnya, orang tua mereka lah yang tidak mengarahkan, tidak berusaha, atau tidak mementingkan pendidikan bagi anak-anak mereka. Anak-anak kecil yang polos dan lugu itu tentulah belum akan mengerti bagaimana pentingnya sekolah bagi masa depan. Mereka hanya bisa mengikuti arahan orang tua atau pengasuh mereka. Jika orang tua tidak menyekolahkan mereka, tentu tak bisa kita menyalahkan atau berbicara pada anak-anak kecil itu bahwa mereka seharusnya sekolah daripada meminta-minta. Orang tuanya lah yang patut kita salahkan, dan kalau ditarik benang merahnya ke atas, tanggung jawabnya akan sampai ke masyarakat atau pemerintah yang tidak mau peduli dengan masa depan sebagian generasi penerus bangsa ini.

Kisah sahabat saya dan nasib anak-anak jalanan tersebut hanyalah sebuah gambaran atau contoh betapa hidup itu terkadang tak adil. Akan tetapi belumlah cukup ketika itu bagi saya untuk meresapi hakekatnya dan sampai pada pernyataan bahwa memang hidup itu tak adil. Adalah komentar yang pernah dikeluarkan seorang dosen ketika membalas email mahasiswanya yang menimbulkan penguatan atau penegasan di pikiran saya tentang hal ini.

Life is indeed not fair,” adalah suatu kalimat pembuka jawaban email darinya menyangkut saran seorang mahasiswa yang sedikit “concern” tentang sesuatu hal yang saya sudah lupa. Suatu kalimat yang membekas di pikiran, karena kalimat tersebut keluar dari seorang intelektual, dosen sekaligus ilmuwan di bidangnya, yang telah mencicipi asam garam kehidupan dengan kematangan usianya sebagai seorang lelaki, yang sebagian di antaranya dihabiskan di universitas-universitas top dunia sebelum ia sampai di kampus saya.

Sejak saat itu saya menjadi lebih sensitif dalam memperoleh contoh-contoh ketidakadilan dalam hidup.

Dalam kehidupan akan mudah kita temui orang-orang memiliki pekerjaan di bidang tertentu yang lebih berat dan sulit, tapi digaji lebih rendah daripada orang-orang yang bekerja di bidang lain (catatan : tak masalah dan bukanlah tak fair jika dalam pekerjaan yang lebih sulit tersebut terdapat passion, kepuasan batin,dan minat/semangat yang tinggi dari mereka yang bekerja). Ada orang yang terlahir dari keluarga kaya raya, dengan semua kebutuhan tercukupi dengan mudah. Untuk masalah pendidikan, mereka tinggal belajar dan bisa disekolahkan oleh orang tua mereka hingga ke luar negeri. Di antara mereka banyak juga yang tinggal meneruskan bisnis atau perusahaan yang telah dirintis oleh orang tua atau keluarga. Di satu sisi, ada juga orang yang semasa kecilnya harus hidup serba kekurangan dan penuh dengan keprihatinan. Untuk bersekolah pun harus berhutang ke sana sini atau sambil bekerja untuk menambal kekurangannya.

Ada orang yang terlahir dengan muka pas-pas an (kalau tidak lah disebut jelek),apalagi yang terlahir dengan cacat di tubuhnya. Di satu sisi, ada yang terlahir dengan kesehatan yang baik, fisik yang prima, dan tampang yang memikat.

Ada yang terlahir sebagai seorang yang cerdas, memiliki daya hapal/ daya ingat yang kuat sehingga mudah dalam belajar atau memahami sesuatu. Di sisi lain, ada yang terlahir dengan otak pas-pasan sehingga harus belajar ekstra keras, berulang-ulang kali dalam kurun waktu tertentu untuk memahami sesuatu.

Ada yang terlahir dengan orang tua yang lengkap serta mendapatkan kasih sayang penuh dari kedua orangtua / keluarganya. Ada yang terlahir tanpa pernah melihat kedua orang tuanya. Ada juga yang harus menerima kenyataan pahit memiliki rumah tangga yang berantakan yang diwarnai percekcokan di antara kedua orang tuanya.

Masih banyak lagi contoh-contoh tentang realita kehidupan yang tak sama atau tak adil yang dialami satu orang dengan yang lain, dimana pembaca pasti bisa menambahkan contohnya yang lain.

Ada satu hal yang hendak saya tekankan disini terkait penjelasan di atas, yakni ada berbagai faktor penyebab kesuksesan seseorang (dalam konteks kacamata keduniawian). Tak selamanya dan tak selalu apa yang diperoleh seseorang, bila dibandingkan dengan yang diperoleh orang lain, adalah gambaran seberapa keras hasil usaha dan kerja kerasnya dibandingkan usaha atau kerja keras orang lain. Jika A bekerja lebih keras dan lebih rajin daripada si B, belum tentu posisi si A lebih tinggi daripada si B di mata dunia.

Itulah kenyataannya, dan itulah suatu realita kerasnya dan tidak fair nya kehidupan.

Baca dan Klik Juga Artikel Terkait : Dimana Tuhan Ketika Orang Jahat dan Banyak Dosa Hidupnya Senang Bahagia, Banyak Harta

Lantas apakah kita harus bersedih hati, patah semangat, berputus asa, atau takut menghadapi kenyataan tersebut ? Apakah perlu orang-orang yang menghadapi kenyataan bahwa memang dunia tidak berpihak pada mereka mengeluarkan kata-kata umpatan atau protes pada kehidupan itu sendiri ?

Tak perlu begitu. Masing-masing orang memang sudah ada suratan takdirnya. Tugas kita hanyalah berusaha dengan sebaik-baiknya, selalu meningkatkan kualitas diri, mempelajari segala kesalahan dan kekurangan yang ada, lalu memanfaatnya untuk hari esok yang lebih baik. Bolehlah dari sudut pandang dunia orang lain lebih tinggi posisinya atau lebih mudah menggapai cita-cita dan kenyamanan hidupnya. Tapi perlu diingat bahwa hari ini, detik ini, bukanlah titik akhir atau garis finish dari kehidupan itu sendiri. Masih ada hari-hari panjang ke depan untuk mengejar ketertinggalan sampai ajal pun tiba. Dan posisi yang diperoleh seseorang saat ini bukanlah tolak ukur yang objektif tentang arti sebuah kesuksesan yang sesungguhnya. Tak ada indahnya sebuah kesuksesan yang didapat tanpa banyak kisah, cucuran keringat, dan air mata. Bisa sampai pada anak tangga teratas beranjak dari anak tangga di tengah-tengah tentunya tidaklah sehebat orang yang sampai pada tangga teratas (atau barangkali cuma sampai di tiga perempatnya) akan tetapi diperolehnya mulai dari anak tangga yang paling bawah. Mengerti maksudnya ? Ya, bagi saya tolak ukur kesuksesan yang sesungguhnya itu adalah seberapa jauh dan seberapa besar usaha yang telah dikeluarkan untuk memanfaatkan potensi yang kita miliki dalam kehidupan.

Anak jenius jadi juara kelas itu biasa, tapi adalah luar biasa anak biasa yang mengalahkan sang jenius dengan kerja kerasnya. Hal ini diakibatkan sang jenius gagal memanfaatkan potensi dirinya semaksimal mungkin yang tak seharusnya bisa dikalahkan oleh anak biasa. Sang jenius baru layak dihargai jika ia berhasil berkreasi dan menemukan penemuan penting dalam kehidupan yang bermanfaat bagi dirinya dan sesama. Well, I am talking about the difference level of playing ground here. Barulah adil kalau tikus diadu sesama tikus, atau kucing diadu sesama kucing. Jika tikus diadu dengan kucing, ya harusnyakucing (pasti) akan menang, walaupun tak betul-betul 100% kemungkinan kucing tak terkalahkan oleh tikus (jadi teringat film kartun Tom & Jerry).

Jadi, dalam hidup tak usah kita terlalu berorientasi melihat posisi yang diperoleh orang lain. Fokus saja pada pencapaian atau perolehan pribadi sebaik-baik mungkin dengan memanfaatkan potensi dan kekuatan diri yang ada dan dengan kerja keras. Dalam hidup, kita tak tahu betul apakah memang orang yang posisinya di atas kita lebih dikarenakan dunia yang lebih berpihak pada mereka (berposisi sebagai kucing, mengambil analaogi di atas). Bisa jadi mereka memang di atas kita karena mereka lebih keras usahanya, lebih banyak cucuran keringat dan air matanya, hanya saja kita tak mengetahuinya. Ya, bisa saja orang yang kita anggap kucing, ternyata sebenarnya adalah juga tikus sebagaimana diri kita, hanyasaja kita tak menyadarinya karena terhalang oleh kabut iri dan dengki.

Pada prinsipnya dalam hidup tetap berlaku prinsip: siapa yang menabur benih dialah yang akan menuai hasilnya. Orang yang terus berusaha keras, tak pernah patah semangat dan putus asa, tak peduli halangan dan berapa banyak kegagalan yang akan atau pernah dialaminya, pada akhirnya ia akan sampai juga pada kesuksesan itu. Hanya tinggal menunggu waktunya saja. Hanya dua hal yang barangkali bisa menggagalkan pencapaiannya tersebut yakni ajal dan takdir Ilahi. Tapi, walaupun takdir tak berpihak padanya seperti diakibatkan ajal yang terlanjur cepat datang, sesungguhnya ia sudah menjadi pemenang. Sebagai umat beragama, hasil usaha kerja kerasnya akan sampai juga padanya dengan bentuk yang lebih baik di kehidupan setelah mati asalkan selama berusaha di dunia ia tetap tak lupa akan Tuhannya dan tetap konsisten melakukan amal kebajikan. Dan untungnya segala usaha manusia, termasuk dalam rangka memenuhi kebutuhan di dunianya, asalkan dilakukan dengan niat yang baik, pasti diberi ganjaran pahala dari yang Tuhan Yang Maha Esa. So, in the end, nothing to lose …

Bagaimana dengan orang-orang yang merasa dirinya telah sukses ? Jika ia sadar bahwa tak selalu dan tak semata-mata keberhasilannya diperoleh hanya akibat atau hasil kerja kerasnya (karena sesungguhnya ada banyak faktor yang mempengaruhi kesuksesan itu, termasuk keberuntungan/takdir sebagaimana penjelasan di atas), maka harusnya ia menjauhi sifat sombong atau lupa diri. Ia harusnya banyak bersyukur dan menggunakan nikmat yang diperolehnya tersebut dengan jalan yang baik dan bijaksana. Selain itu perlu diingat, jika ia berada di atas sekarang, belum tentu besok atau selamanya akan tetap begitu adanya. Hidup terkadang bagaikan roda berputar, kadang di atas kadang di bawah. Telah banyak contoh kejatuhan seseorang pada titik tertinggi kehidupannya semata-mata karena keterlenaannya akan kehidupan itu sendiri. Dan perlu diingat juga, jika ia adalah seorang pemeluk agama dan percaya pada Tuhan, sesungguhnya kehidupan dunia ini adalah sementara dan tak ada apa-apanya di bandingkan kehidupan setelahnya. Tak peduli seberapa banyak harta bendanya saat ini, seberapa besar pengaruh dan kekuasaannya, sesungguhnya pada akhirnya ia juga akan mati. Dan kelak segala usaha, amal perbuatannya akan dipertanggung jawabkan dihadapan dan dibalas seadil-adilnya oleh Yang Maha Kuasa.

Baca dan klik juga artikel yang berkaitan : Cara Paling Baik Menyikapi Stres, Sedih, dan Kegagalan Hidup

Hidup memang terkadang tak adil, dan seringkali keras. Tapi tetaplah berbesar hati kawan, dan berusaha sebaik yang anda yang bisa. Jangan sedih bagi yang belum berhasil dalam hidup, dan jangan pula lupa diri bagi yang telah merasakan kesuksesan tersebut.


TAGS Islam opini pendapat hidup kehidupan nasehat kegagalan kesuksesan


-

Search

Tulisan Baru