photo bannercreator-nu1_zpsuf9u53ms.gif

Keutamaan / Amalan Ibadah Pada Sepuluh (Sembilan) Hari Awal Bulan Dzulhijjah

28 Oct 2011

Karena kita sudah memasuki bulan Dzulhijjah, ada baiknya saya mengungkapkan tentang keutamaan sepuluh ( sembilan ) hari awal (pertama) bulan Dzulhijjah, dan juga menjelaskan tentang amalan ibadah apa saja yang sebaiknya dilakukan pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Tentunya juga akan dibahas mengenai puasa sunnah pada permulaan bulan ini umumnya, dan puasa Arafah (puasa sunnah pada tanggal 9 Dzulhijjah) khususnya. Tulisan ini mengambil referensi atau mengambil intisari dari tulisan Muhammad Abduh Tuasikal yang ditampilkan pada situs rumaysho.com.

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah).” Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi shallallahu alaihi wa sallam menjawab: “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun.

(HR. Abu Daud no. 2438, At Tirmidzi no. 757, Ibnu Majah no. 1727, dan Ahmad no. 1968, dari Ibnu Abbas. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Syaikh Syuaib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim.)

Ulama banyak memberi penjelasan tentang hadith di atas. Hadith tersebut menunjukkan keutamaan melakukan amal ibadah pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, dimana Allah lebih menyukainya dibandingkan hari-hari di luar waktu tersebut dan oleh karenanya termasuk waktu-waktu beribadah yang utama (1). Bahkan nilai ibadahnya lebih tinggi nilainya daripada berjihad yang tak sampai syahid, padahal berjihad termasuk amalan yang utama dan tinggi nilainya (2).

Mengenai hal ini penjelasannya adalah : amalan ibadah yang dilakukan pada waktu-waktu yang utama, seperti halnya sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah ini, akan bisa mengakibatkan amalan yang biasa (tak utama) akan bernilai lebih daripada amalan utama yang dikerjakan di luar waktu utama (3). Sementara tentunya amalan yang utama juga akan dilipatgandakan pahalanya dibandingkan pada hari-hari lain.

Mengenai amalan atau ibadah apa saja yang tinggi nilainya dilakukan pada sepuluh awal bulan Dzulhijjah, maka ulama mengatakan bahwa hal itu berlaku bagi semua macam ibadah dan amal shaleh seperti sholat, membaca Al Qur’an, sedekah, menolong orang lain, dsb. Jadi tak hanya terbatas pada masalah puasa sunnah (4).

Mujahid mengatakan, Amalan di sepuluh hari pada awal bulan Dzulhijah akan dilipatgandakan. (5)

Puasa sendiri memang termasuk amalan yang dianjurkan dilakukan pada hari-hari awal bulan Dzulhijjah sebagaimana hadith rasulullah di bawah ini, dan sebagaimana juga para sahabat banyak yang mengamalkannya.

Dari Hunaidah bin Kholid, dari istrinya, beberapa istri Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengatakan, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijah, pada hari Asyura (10 Muharram), berpuasa tiga hari setiap bulannya (maksudnya bulan Hijriyah)” (6)

Akan tetapi ada riwayat dari Aisyah yang mengatakan : Aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berpuasa pada sepuluh hari bulan Dzulhijah sama sekali. (7)

Mengenai perkataan Aisyah tersebut ada penjelasan dari ulama. Bisa jadi Rasulullah pernah meninggalkannya sama sekali ketika itu (padahal beliau menyukainya) disebabkan khawatir umatnya akan mengira puasa tersebut wajib (8). Akan tetapi ada juga yang berpendapat bahwa maksud hadith yang disampaikan Aisyah tersebut adalah Rasulullah tidak berpuasa selama sembilan hari penuh, tapi ada kalanya beliau tak puasa. Dan pendapat ini dianggap baik apalagi jika disesuaikan dengan hadith dari istri Rasulullah lainnya yakni Hafshoh yang menyatakan bahwa beliau tak pernah meninggalkan puasa pada sembilan hari awal bulan Dzulhijjah (9). Selain itu ada redaksi hadith yang menyatakan bahwa berpuasa pada sepuluh hari awal bulan Dzulhijjah, dimana maksud dari hadith tersebut adalah mayoritas dari sepuluh hari awal, karena tak mungkin puasa pada hari ke-10, dimana merupakan hari raya dan termasuk waktu dilarang puasa (hari tasyrik) (10). Jadi kesimpulannya adalah diperbolehkan jika kita tak berpuasa penuh selama sembilan hari awal bulan Dzulhijjah, sementara berpuasa pada ke sembilan harinya juga bisa dilakukan.

Di antara kesembilan hari pertama bulan Dzulhijjah tersebut, hari ke-9 atau yang disebut sebagai hari Arafah memiliki keutamaan tersendiri.

Bagi yang sedang haji dan melakukan wukuf di Arafah di dalam hadith dijelaskan bahwa pembebasan dari api neraka dan pengabulan permohonan terbuka lebar bagi banyak orang (11), sesuai tentunya dengan niat dan pelaksanaan hajinya (12).

Bagi yang tak bisa berhaji, maka ia bisa berpuasa Arafah yang bisa menghapuskan dosa-dosa kecil, atau meringankan dosa-dosa besar selama dua tahun (setahun yang lalu dan setahun yang akan datang), atau Allah akan meninggikan derajatnya (13). Selain itu kita juga dianjurkan banyak berdoa dalam salah satu waktu yang dikabulkannya doa ini.

Dari Abu Qotadah, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Puasa Arofah dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyuro (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu. (14)

Bagi yang sedang berhaji dan sedang wukuf di Arafah tidak dianjurkan berpuasa Arafah sebagaimana Rasulullah dan Khulafa ‘ur Rasyidin tidak melakukannya. (15, 16)

Dari Amr bin Syuaib dari ayahnya dari kakeknya, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda. Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arofah(17). Maksudnya, inilah doa yang paling cepat dipenuhi atau terkabulkan (18).

Adapun mengenai puasa pada tanggal delapan Dzulhijjah (tarwiyah), tidak boleh melakukan pengkhususan dalam artian berniat puasa atas nama puasa tanggal 8 Dzulhijjah. Sebagaimana hadith yang menyatakan keutamaan puasa pada hari ke delapan Dzulhijjah, yang bisa menghapuskan dosa setahun yang lalu, dinyatakan tidak shahih oleh Ibnul Jauzi (19) dan Asy Syaukani (20) atau dinyatakan lemah oleh Al Albani (21).

Akan tetapi kita boleh berpuasa pada hari itu jika bukan mengatasnamakannya dengan puasa tanggal 8 Dzulhijjah, tapi semata-mata karena termasuk salah satu hari dari sembilan hari awal bulan Dzulhijjah, sebagaimana yang disampaikan secara umum dalam hadith Rasulullah di bagian atas tulisan. Wallahu ‘alam.

Semoga kita bisa mengambil ilmu dan manfaat dari tulisan ini, dan bisa memanfaatkan keutamaan pada sepuluh atau sembilan hari awal bulan Dzulhijjah sekaligus bisa melakukan amalan ibadah yang baik, termasuk di antaranya puasa sunnah dan puasa Arafah sebagaimana yang telah dijelaskan di atas.

Referensi :

  1. Latho-if Al Maarif, Ibnu Rajab Al Hambali, hal. 456, Al Maktab Al Islamiy, cetakan pertama, tahun 1428 H
  2. Lihat Latho-if Al Maarif, hal. 457 dan 461
  3. idem
  4. Lihat Tajridul Ittiba, Syaikh Ibrahim bin Amir Ar Ruhailiy, hal. 116, 119-121, Dar Al Imam Ahmad
  5. Lihat Latho-if Al Maarif, hal. 458
  6. HR. Abu Daud no. 2437. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih
  7. HR. Muslim no. 1176, dari Aisyah
  8. Ibnu Hajar Al Asqolani dalam Fathul Bari, 3/390, Mawqi Al Islam
  9. Latho-if Al Maarif, hal. 459-460.
  10. Lihat Fathul Bari, 3/390 dan Latho-if Al Maarif, hal. 460.
  11. HR. Muslim no. 1348, dari Aisyah
  12. Lihat Mirqotul Mafatih Syarh Misykatul Mashobih, Al Mala Alal Qori, 9/65,Mawqi Al Misykah Al Islamiyah.
  13. Lihat Syarh Muslim, An Nawawi, 4/179, Mawqi Al Islam.
  14. HR. Muslim no. 1162, dari Abu Qotadah
  15. HR. Tirmidzi no. 750. At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits tersebut hasan shohih. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih
  16. HR. Tirmidzi no. 751. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih.
  17. HR. Tirmidzi no. 3585. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan
  18. Lihat Tuhfatul Ahwadziy, Muhammad Abdurrahman bin Abdurrahim Al Mubarakfuri Abul Ala, 8/482, Mawqi Al Islam.
  19. Lihat Al Mawdhuat, 2/565, dinukil dari http://dorar.net
  20. Lihat Al Fawa-id Al Majmuah, hal. 96, dinukil dari http://dorar.net
  21. Lihat Irwaul Gholil no. 956.


TAGS Islam puasa tanggal 8 9 keutamaan Zulhijjah amalan ibadah bulan Dzulhijjah keutamaan puasa Arafah


-

Search

Tulisan Baru