photo bannercreator-nu1_zpsuf9u53ms.gif

Mengutuk Demonstrasi Anarkis Kenaikan BBM dan Suramnya Masa Depan Indonesia

30 Mar 2012

Barangkali terlalu jauh dan berlebihan membuat suatu hubungan antara demonstrasi anarkis yang marak di tanah air akhir-akhir ini - yang terbaru adalah demo menyangkut rencana kenaikan harga BBM - dengan sebuah pernyataan yang mengaitkannya dengan pertanda suramnya masa depan Indonesia. Akan tetapi kegiatan demonstrasi anarkis terkait dengan kenyataan kualitas banyak masyarakat Indonesia saat ini terutama generasi muda calon penerus bangsanya, yang jika kondisi seperti ini tetap dipertahankan apa adanya tanpa perbaikan nyata maka barangkali hanya tinggal menunggu waktunya saja bangsa Indonesia ini akan semakin terpuruk, jikalau tak hancur.

Hal yang paling menjadi sorotan adalah embel-embel yang dipakai para demonstran anarkis, yang tak lain dan tak bukan adalah anggota kasta tertinggi dunia pendidikan yakni mahasiswa. Mahasiswa yang harusnya identik dengan intelektualitas ternyata secara ironis, pada kenyataannya, banyak tampil dengan aksi yang jauh dari nilai-nilai intelektual itu sendiri melalui aksi demonstrasi emosional yang merusak. Banyak fasilitas umum maupun pribadi yang hancur; sementara kegiatan ekonomi, sosial kemasyarakatan, dan stabilitas keamanan pun terganggu.

Mereka berkata bahwa mereka adalah pejuang yang berada di garis depan dalam membela kepentingan rakyat banyak dan yang berkekurangan. Akan tetapi sungguh sudah sangat berlebihan apa yang telah mereka lakukan saat ini.

Tidak adakah cara yang lebih baik selain mengedepankan otot, apalagi sampai menghancurkan banyak hal di sekitar mereka ? Dan layakkah mereka berbuat hal yang demikian kepada sesama elemen bangsa sendiri, termasuk pada pihak penjaga keamanan dan masyarakat Indonesia yang secara tak sengaja ikut turut jadi korban ? Jika yang dihadapi adalah negara asing yang sedang menginvasi barangkali baru tepat apa yang mereka lakukan saat ini.

Seolah-olah yang mereka hadapi saat ini adalah sebuah hal yang sangat mutlak kejelekannya dan tak bisa dikompromikan sehingga mereka pun mengambil jalur pemaksaan kehendak. Ya, demonstrasi yang terjadi saat ini adalah bukan lagi aksi menyalurkan aspirasi, akan tetapi adalah aksi massa dalam upaya memaksakan kehendak kepada lawan yang bertentangan dengan paham dan pendapat mereka - dalam hal ini adalah pemerintah sah negara mereka sendiri - yang juga telah mereka pilih sendiri secara demokratis.

Padahal jikalau mau berpikiran jernih, ada beberapa alasan logis dari pemerintah menyangkut alasan rencana kenaikan BBM (itupun jika yang berdemonstran rajin membaca, belajar, dan menggunakan akalnya), di antaranya adalah walaupun kita memproduksi minyak sendiri akan tetapi konsumsi dalam negeri jauh lebih besar dari yang dihasilkan sehingga mau tak mau butuh tambahan dari luar negeri sedangkan harga minyak dunia selalu cenderung naik (dimana cadangan minyak bumi dunia juga makin berkurang dari tahun ke tahun sampai pada akhirnya akan habis total). Dan memang dari yang pernah saya baca, Indonesia sudah tak lagi anggota inti organisasi OPEC atau dengan kata lain tak lagi diakui sebagai negara produsen minyak dunia.

Entah pemerintah jujur atau bohong dalam hal ini, yang jelas lebih baik kita berpikiran positif saja bahwa pemerintah pasti tak ingin kondisi ekonomi secara umum memburuk atau dalam kata lain tak ingin tingkat kesejahteraan masyarakat secara umum tambah jelek. Adalah sebuah logika sederhana jika seorang pimpinan lebih tenang jika orang-orang yang dipimpinnya bahagia dan sejahtera. Tak ada pemimpin yang lebih menyukai kekuasaannya penuh gonjang-ganjing kecuali pemimpin yang bodoh. Berdasar pada prasangka baik itulah, jika sampai pemerintah membuat keputusan yang terlihat mempersempit kehidupan masyarakat banyak, barangkali pemerintah terpaksa melakukan itu karena hanya punya pilihan yang terbatas, dan tak ada yang lebih baik bagi masa depan bangsa selain menjalankan pilihan tersebut walaupun sulit, pahit, dan tidak populer di mata banyak orang awam. Dan jika memang demikian adanya, hendaknya kita sebagai warga negara berlaku sabar dan makin bekerja keras untuk bisa menjadi lebih produktif dan maju; tak hanya selalu manja dan bergantung pada pemerintahnya dalam menjalani hidup.

Dan pada kenyataannya beberapa komponen masyarakat Indonesia sendiri bisa menerima rencana dari pemerintah tersebut. Jadi patut juga kita kritisi apakah benar aksi-aksi demonstrasi anarkis ini diridho’i oleh mayoritas masyarakat Indonesia. Jangan hanya karena mereka berani tampil “main keras” artinya mereka pasti mewakili mayoritas masyarakat. Bisa jadi lebih banyak masyarakat yang tak begitu mempermasalahkan kenaikan harga BBM, akan tetapi karena mereka tak bisa dan tak ada kuasa dalam menghentikan tindakan premanisme para demonstran tersebut maka mereka hanya berdiam menyaksikan situasi sambil bergantung pada petugas keamanan. Atau seandainya memang lebih banyak masyarakat yang tak ingin kenaikan BBM, saya yakin sebagian dari mereka yang tak suka harga BBM naik tak ingin dan tak suka demonstrasi. Kemudian di antara mereka yang memang setuju demonstrasi anti kenaikan BBM, sebagian besar dari mereka pun pasti tak mau demonstari yang anarkis. Jadi jika para demonstran anarkis itu berteriak-teriak mengatas-namakan masyarakat Indonesia, saya sangat-sangat meragukan kredibilitas pernyataan tersebut berdasar atas tindakan destruktif nyata dan mengganggu yang telah mereka lakukan.

Kemudian, adalah sebuah opini, persepsi, atau baru perkiraan jika kenaikan BBM pasti akan memperpuruk kondisi ekonomi masyarakat karena hal itu baru sebuah rencana yang belum dijalankan. Bukannya bodoh jika kita melakukan tindakan anarkis yang bisa merusak banyak harta benda dan hilangnya nyawa yang berharga hanya karena ketakutan akan sebuah hal di masa depan yang belum terjadi ? Kenapa tidak dicoba saja terlebih dulu, dan lihat apa yang terjadi nanti di masa datang. Mana tahu kondisinya tak sejelek yang diperkirakan seperti dengan adanya gebrakan dan usaha lain dari pemerintah untuk mengurangi dampak negatif kenaikan BBM. Dan bisa jadi kondisi ekonomi malah lebih baik. Wallahu ‘alam. Mungkin lebih baik jika mereka baru terjun berdemonstrasi anarkis jika sudah nyata-nyata kondisi ekonomi memburuk di masyarakat setelah harga BBM dinaikkan dalam periode waktu tertentu (walaupun tetap secara pribadi saya tak suka).

Hal lain yang membuat saya khawatir dengan nasib bangsa ini ke depan adalah sikap banyak elit politik yang seakan-akan hanya mengejar kekuasaan belaka. Dalam rangka mendapatkan kekuasaan itu adakalanya cara apapun akan dilakukan, termasuk dengan embel-embel mengatas-namakan kepentingan rakyat, pura-pura membela rakyat. Hal yang mungkin sederhana dijadikan rumit. Hal yang mudah dijadikan sulit. Semata-mata untuk menggoyang pemerintah yang berkuasa agar jatuh sehingga mereka bisa menggantikan posisi penguasa. Semoga saja analisa yang saya ungkapkan ini salah.

Sebab jika memang benar-benar demikian adanya, sungguh semakin gelaplah masa depan bangsa tercinta ini. Sudahlah banyak masyarakat yang tingkat pendidikannya masih rendah, yang bisa sampai pendidikan tinggi pun banyak yang tak bermoral dan tak menggunakan akal sehatnya; ditambah lagi dengan golongan elit di atas yang sibuk gontok-gontok an berebut kursi kekuasaan.

Sebagai penutup, maka ada layaknya saya nukilkan beberapa kaidah Islam bersumber dari Al Qur’an, hadith, dan penjelasan beberapa ulama di bawah ini yang barangkali relevan, yang tak akan bisa dijelaskan panjang lebar disini, tapi kiranya cukup untuk mewakili saja (silakan cari dan baca informasi lebih lanjut untuk keterangan dan penjelasan lebih lengkap yang terkait dengannya).

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan pemimpin di antara kamu. (Qur’an An-Nisa: 59).

Rosululloh Shollallohu alaihi wassalam bersabda, Aku memberi wasiat kepada kalian untuk bertaqwa kepada Alloh yang Maha Tinggi dan Maha Mulia, serta selalu mendengar dan taat walaupun yang memerintah kalian adalah seorang budak. (HR. Abu Daud no. 4607 dan Tirmidzi no. 2676)

Rosululloh Shollallohu alaihi wassalam bersabda, Wajib bagi kalian untuk tetap mendengar dan taat (kepada penguasa) baik kalian dalam keadaan sulit, mudah, senang ataupun benci. Serta (wajib pula mendengar dan taat) dalam keadaan ia tidak memperdulikan kalian. (HR. Muslim). Catatan tambahan : (kecuali jika ia diperintah untuk berbuat kemaksiatan. Apabila ia diperintah untuk berbuat maksiat, maka tidak boleh mendengar dan taat. (HR. Bukhori no. 1744 dan Muslim) - (tapi tetap tak memberontak, baca selanjutnya di bawah- red).

Rosululloh Shollallohu alaihi wassalam bersabda, Barangsiapa dipimpin oleh seorang penguasa, kemudian ia melihat penguasa tersebut terjatuh ke dalam perbuatan maksiat, hendaklah ia membenci perbuatan kemaksiatan tersebut, namun janganlah hal itu menyebabkan tidak taat. (HR. Muslim)

Rosululloh Sholallohu alaihi wassalam bersabda, Barangsiapa yang membenci tindakan penguasanya hendaklah ia bersabar. (HR. Bukhori dan Muslim) Sesungguhnya orang-orang yang bersabar, ganjaran bagi mereka adalah tanpa hisab (tak terhingga) (Qur’an, Az Zumar: 10).

Rosululloh Shollallohu alaihi wassalam bersabda, Dengarlah dan taat kepada pemimpinmu, walaupun mereka menyiksa punggungmu dan mengambil hartamu. Tetaplah mendengar dan taat kepada mereka (HR. Muslim no. 1847).

Rasulullah bersabda, Sepeninggalku nanti akan muncul pemimpin yang mementingkan diri sendiri dan (kamu melihat padanya) hal-hal yang kamu anggap mungkar. Para sahabat bertanya, Wahai Rosululloh, apakah yang engkau perintahkan kepada kami? Beliau menjawab, Tunaikanlah haknya dan mohonlah kepada Alloh yang menjadi hakmu. (HR. Bukhori dan Muslim).

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Barangsiapa melihat sesuatu pada pemimpinnya sesuatu yang tidak ia sukai, maka bersabarlah. Karena barangsiapa yang melepaskan diri satu jengkal saja dari jamaah, maka ia mati seperti matinya jahiliyah (artinya: ia mati dalam keadaan jelek dan bukan mati kafir, pen) (HR. Bukhari no. 7054 dan Muslim no. 1849).

Rosululloh Sholallohu alaihi wassalam bersabda, Barang siapa yang ingin menyampaikan nasehat kepada penguasa, janganlah ia menyampaikannya di depan umum, akan tetapi menyendirilah dengannya. Jika ia mau menerima nasehat tersebut, maka itulah (yang diharapkan), jika tidak maka sesungguhnya ia telah melaksanakan kewajibannya. (Hadits Shohih Riwayat Imam Ahmad).

Allah Taala berfirman,

?????????? ???????? ?????? ????????????? ??????? ????? ??????? ???????????

Dan demikianlah kami jadikan sebagian orang yang zalim sebagai pemimpin bagi sebagian yang lain disebabkan amal (aneka maksiat) yang mereka lakukan. (Qs Al Anam: 129)

Penjelasan tentang ayat di atas, diantaranya adalah penafsiran sahabat Nabi, Abdullah bin Zubair, dan Al Mawardi : Allah akan menjadikan seorang yang zalim akan dikuasai dan dizalimi oleh orang selainnya. Atau Allah memasrahkan sebagian orang yang zalim kepada orang zalim yang lain (tidak ditolong Allah)

Dalam Tafsirnya Fakhruddin Ar Razi mengatakan, Ayat di atas adalah dalil yang menunjukkan jika rakyat suatu negara itu zalim (baca: gemar maksiat, korupsi, dll) maka Allah akan mengangkat untuk mereka penguasa yang zalim semisal mereka. Jika mereka ingin terbebas dari kezaliman penguasa yang zalim maka hendaknya mereka juga meninggalkan kemaksiatan yang mereka lakukan.

Maka bisa jadi diangkatnya penguasa-penguasa dan pemimpin yang tak pro-rakyat di antara kita adalah karena ulah kita sendiri sebagai masyarakat yang juga banyak menyimpang dari kebaikan, sehingga diberikan bagi kita pemimpin yang tak baik sebagai hukuman dan agar kita semua kembali pada Nya dan bertobat. Sebaliknya jika masyarakat nya adalah baik dan bersabar dalam ketaatan, maka insya Allah akan diberikan pula bagi mereka pemimpin yang baik, sebagaimana saya pernah teringat membaca ayat Al Qur’an di bawah ini.

Baca dan klik juga artikel terkait : Maju Tidaknya Indonesia Tergantung Rakyatnya Sendiri, Bukan Tergantung Pemerintah

Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami. (Qur’an As Sajadah : 24)

Ali bin Abi Tholib pernah berkata,Manusia tidaklah akan menjadi baik melainkan di bawah penguasa yang baik maupun fajir (zholim). Jika penguasa tersebut zholim, selama masih beriman, maka kezholimannya adalah urusan dia dengan Rabbnya (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Mushonnafnya, 15: 328).

Ibnu Abil Izz rahimahullah berkata, Hukum mentaati pemimpin adalah wajib, walaupun mereka berbuat zholim (kepada kita). Jika kita keluar dari mentaati mereka maka akan timbul kerusakan yang lebih besar dari kezholiman yang mereka perbuat. Bahkan bersabar terhadap kezholiman mereka dapat melebur dosa-dosa dan akan melipat gandakan pahala. Allah Taala tidak menjadikan mereka berbuat zholim selain disebabkan karena kerusakan yang ada pada diri kita juga. Ingatlah, yang namanya balasan sesuai dengan amal perbuatan yang dilakukan (al jaza min jinsil amal). Oleh karena itu, hendaklah kita bersungguh-sungguh dalam istigfar dan taubat serta berusaha mengoreksi amalan kita (Syarh Aqidah Ath Thohawiyah, hal. 381, terbitan Darul Aqidah).


TAGS hikmah opini pendapat nasehat demonstrasi harga BBM kenaikan BBM demo anarkis renungan Islam demo tuntutan mahasiswa sosial politik


-

Search

Tulisan Baru