photo bannercreator-nu1_zpsuf9u53ms.gif

Manchester City Menang & Juara Inggris, Nyaris Membuat Penonton SesakNafas

14 May 2012

Sungguh sangat dramatis pertandingan terakhir Manchester City melawan QPR tadi, membuat jantung berdebar-debar tak karuan, diikuti teriakan, meloncat-loncat, lalu tiba-tiba jadi tegang, sesak nafas, tangan panas dingin, putus asa, kecewa, namun berakhir dengan sangat manis di masa empat menit terakhir injury time, membuat City pada akhirnya menang dan juara liga premier Inggris musim 2011-2012; itulah kira-kira gambaran perasaan saya sebagai penonton dan fans Manchester City (sebenarnya lebih berposisi sebagai anti dominasi MU, walau juga tak pernah suka MU kecuali di era Cantona, lalu menjadi fans klub biru yakni Chelsea dan Manchester City).

Gila….mantap habis…, benar-benar sebuah partai penutup liga Inggris yang fenomenal dan barangkali tak akan terlupakan. Di kala Manchester City harus menang untuk menutup liga sebagai juara, entah bagaimana QPR sempat membuat mereka ketinggalan 2-1 sampai di menit ke-91 walau bermain dengan 10 pemain terlepas dari fakta City sempat unggul 1-0 di babak pertama; sementara MU di partai lain unggul 0-1 atas tuan rumah Sunderland. Akan tetapi pemain pengganti Edin Dzeko membuat kesempatan menjadi hidup dengan gol sundulan kepalanya di kala itu. Dan pada akhirnya di menit 93 menjelang menit 94, Sergio “Kun” Aguero melalui golnya membuat saya teriak-teriak histeris tak karuan, menyegel gelar liga Inggris untuk Manchester City.

Manchester City tampil dominan dengan penguasaan bola barangkali hampir 90 %. Di babak pertama, serangan bertubi-tubi dilancarkan akan tetapi berhasil dimentahkan pertahanan rapat dan banyak QPR. Ketegangan saya dan fans City di seluruh dunia mulai muncul ketika MU mencetak gol melalui Wayne Rooney atas Sunderland. Namun akhirnya, frustasi itu lenyap dengan gol yang diciptakan Zabaleta atas assist yang dilakukan Yaya Toure yang sebenarnya beberapa menit sebelumnya sudah dalam kondisi cedera tapi masih dipaksakan bermain. Keunggulan 1-0 berlanjut sampai akhir babak pertama.

Di babak kedua, City masih dominan. Akan tetapi sebuah kebodohan harus dibayar mahal Manchester City karena Djibril Cisse berhasil menyarangkan bola liar yang sampai kepadanya ke dalam gawang Manchester City yang dikawal Joe Hart, tak lain dan tak bukan karena kecerobohan Lescott dalam menghalau bola melalui kepalanya. Skor 1-1 menjelang menit ke-50 itu membuat suasana kembali menjadi tegang seperti semula. Hasil seri tak bisa diterima bagi kubu Manchester City untuk mengalahkan MU dalam duel persaingan merebut juara liga.

Lalu kembali seperti semula, Manchester City terlihat frustasi dan kesulitan menembus pertahanan QPR. Kemudian terjadi insiden Carlos Tevez dikasari oleh kapten QPR, Joey Barton, dan membuatnya harus di kartu merah. City seperti berada di atas angin, dan serangan makin bertubi-tubi dan berbahaya dilancarkan ke arah pertahanan QPR yang sebetulnya semakin rapat dan semakin sulit ditembus. Akan tetapi entah bagaimana tiba-tiba melalui sebuah serangan balik QPR malah berhasil mencetak gol melalui sundulan Mackie memanfaatkan umpan akurat pemain pengganti Armand Traore dari sisi kanan pertahanan City.

Ternganga lah saya dan menangislah sebagian suporter Manchester City karena artinya City harus mencetak dua gol tambahan di tengah super rapatnya pertahanan QPR. Menit demi menit pun berjalan, diiringi dengan teriakan kegalauan Mancini, berikut aksi emosi kekecewaan, kemarahan, dan kekesalan fans City yang menonton langsung di stadion karena tak percaya situasi seperti itu terjadi. Menit ke-80 pun berlalu. Menit ke-85 pun lewat, sampai ke menit 90, dimana 5 menit tambahan waktu pun diberikan. Sebelum itu Carlos Tevez ditarik keluar yang memang sudah saya tandai bermain di bawah standar sejak babak pertama, sementara Edin Dzeko dan Balotelli masuk.

Beberapa kali Balotelli mengancam, tapi dipatahkan pertahanan menumpuk QPR. Aksi Dzeko banyak yang berakhir “bodoh”. Samir Nasri pun terlihat hanya memutar-mutarkan bola di luar kotak penalti QPR, hanya David Silva yang sedikit lebih baik. Dan saya kesal karena bola tak mampu dialirkan masuk ke dalam penalti lawan, sedangkan bola-bola lambung disapu bersih oleh pemain-pemain QPR yang menumpuk di depan gawangnya. Saya sudah sampai pada titik menyerah, dan pasrah MU yang akan kembali menjadi juara liga Inggris.

Lalu pertandingan pun sampai di akhir menit ke-91 ketika sundulan Dzeko memanfaatkan umpan sudut merobek gawang QPR. Peluang City mendadak hidup kembali, tapi segalanya menjadi sangat tegang penuh harap mengingat hanya ada 3 menit waktu tersisa karena MU sudah memastikan kemenangannya atas Sunderland. Dan melalui sebuah proses yang melibatkan Balotelli di tengah pertahanan QPR, bola sampai di kaki Aguero di sisi kanan, dengan sedikit men dribble ke kanan, sebuah tendakan keras pun meluncur ke arah kiri gawang QPR, dan goooooooooooolll……………goooooooooollll…….

Nyaris satu menit tersisa, dan terjadi lah gol kemenangan tersebut. Sebuah gol yang tiada duanya, bernilai tinggi, dan dibuat di momen-momen yang sangat dramatis. Mancini melonjak kegirangan, fans dan penonton di stadion bergemuruh, dan saya yang di rumah menonton meloncat-loncat, berteriak-teriak histeris luar biasa sampai lebih satu menit lamanya, entah sampai berapa meter terdengar orang dari luar rumah. Sebuah pertunjukan bak drama yang berakhir sempurna. Penonton dan suporter masuk membanjiri lapangan hijau. Manchester City menang dan Manchester City pun juara liga premier Inggris setelah penantian panjang selama 44 tahun.


TAGS Manchester City liga premier inggris juara liga inggris City menang dramatis Manchester City QPR skor 3-2 penonton fans inggris laporan pandangan mata


-

Search

Tulisan Baru