photo bannercreator-nu1_zpsuf9u53ms.gif

Retorika Syiah vs Barat Dan Kepungan Serangan Terhadap Islam Sunni

5 Jun 2012

Apa yang telah terjadi di negara-negara timur tengah, mulai dari perang Afganistan, Irak, Libya, konflik sunni-syiah di Bahrain, Yaman, dll beserta posisi negara Iran hingga sampai konflik di Syria atau Suriah saat ini, bagi saya itu semua adalah sebuah gambaran bahwa Islam Sunni lah yang sebenarnya tertekan, diserang, atau terjepit oleh berbagai pihak yang terkait; sementara syiah menunjukkan taji dengan aksi-aksinya yang tampil bak pahlawan dunia Islam dengan retorika syiah (Iran - Hizbullah) vs Barat nya yang bagaikan sandiwara belaka, sedangkan yang terjadi sebaliknya malah Islam sunni lah yang terobok-obok.

Afganistan adalah sunni dan telah diserang sebagaimana dimaklumi banyak orang. Irak waktu itu dikuasai oleh sunni melalui Saddam Husein nya. Setelah perang syiah yang memang cukup dominan populasinya disana sekarang mendominasi dengan berbagai berita diskriminasi, kesewenang-wenangan, hingga tragedi kemanusiaan kepada sunni yang tersebar hingga ke saya hingga akhirnya menyulut perang sekterian hingga sekarang. Libya adalah sunni, dan penguasanya pun dibuat tewas melalui aksi militer dibantu barat terlepas dari pro-kontra alasannya. Dalam kejadian di tiga negara tersebut, negara-negara barat dengan relatif cepat merespons dengan aksi militernya.

Bersamaan dengan itu, Iran yang syiah sering tampil di media, dengan berani ‘meneror’ kelompok-kelompok yang dianggap anti-Islam melalui ucapan-ucapannya dimana juga dibalas oleh lawan-lawannya dengan ucapan tak kalah mengerikan sampai ancaman aksi militer. Tapi dari dulu hingga sekarang, itu semua tinggal retorika belaka, dimana tetap tak ada aksi militer satu pun yang sampai ke Iran begitu juga sebaliknya tak ada satupun serangan nyata Iran ke pihak-pihak yang ia ancam. Kemudian sebelumnya ada kelompok militer syiah Hizbullah di Lebanon yang beberapa kali mengompori Israel, kemudian Israel membalas dengan jumlah korban yang berlipat-lipat kali lebih banyak yang mayoritasnya bukanlah tentara Hizbullah tapi rakyat sipil (dan anehnya sering dianggap sebuah kemenangan bagi Hizbullah). Itu semua membuat posisi Iran maupun Hizbullah menjadi bak pahlawan bagi sebagian orang di dunia Islam dan banyak yang mengelu-elukan mereka.

Padahal telah luput kepada sebagian dunia Islam bahwa sejak kejadian demonstrasi musim semi Arab (Arab Spring) yang ditandai kejatuhan diktator Maroko, Muammar Khadafi di Libya dan Husni Mubarak di Mesir, kelompok-kelompok syiah juga terlibat dalam aksi-aksi yang merongrong sesama muslim, yakni kelompok sunni, sehingga terjadilah ketidak-stabilan dan konflik di daerah-daerah dengan jumlah penduduk syiah yang lumayan di negara-negara seperti Arab Saudi, Bahrain, Yaman, dsb. Khusus untuk Yaman, perang setahu saya masih berlangsung saat ini antara kelompok syiah dengan sunni yang diawali dengan pemborbardiran kompleks sekolah ternama sunni oleh milisi syiah disana yang sempat melibatkan mahasiswa Indonesia. Sementara itu di bekas-bekas negara sunni yang telah melewati periode “Arab Spring” tersebut telah terjadi penurunan kualitas ekonomi dan tak adanya stabilitas sosial politik seperti di Libya dan nyata-nyata terlihat di Mesir hingga saat ini.

Lalu hal terkini dan terpanas adalah menyangkut konflik di Suriah (Syria). Apa yang terjadi di Suriah inilah sebenarnya yang mendominasi kenapa penulis sampai pada kesimpulan yang tampak pada judul tulisan dan pernyataan di paragraf pertama, selain karena alasan-alasan lain di atas. Suriah yang mayoritas sunni telah dipimpin oleh dinasti keluarga Assad yang syiah secara diktator selama 42 tahun. Lalu ketika sebuah demonstrasi damai disana harus berakhir dengan tertumpahnya darah demonstrator yang berkembang menjadi tragedi kemanusiaan dengan lebih dari 10.000 penduduk tewas selama lebih dari 15 bulan, bagaimana reaksi dunia internasional khususnya barat terhadap rezim Assad ? Mereka mendadak tak selincah biasanya sebagaimana menghadapi Irak, Libya, dan Afganistan yang dengan sigap dihadapi dengan aksi bersenjata. Dan kondisi itu tetap bertahan walaupun telah terjadi tragedi kemanusiaan parah lain pada tanggal 25 Mei lalu dimana telah terjadi pembantaian di sebuah desa perkampungan muslim sunni di Houla, provinsi Homs, yang menghabisi penduduknya dari rumah ke rumah dengan senapan dan tusukan, dengan jumlah korban paling sedikit 108 orang, lebih dari setengahnya adalah wanita dan anak-anak.

Banyak pihak yang mengatakan bahwa diantara alasan tak begitu bernafsu nya barat untuk menolong rakyat Suriah padahal tragedi kemanusiaannya bisa jadi lebih mengerikan daripada Libya adalah karena tidak ada keuntungan yang mereka dapat. Afganistan adalah untuk menghadapi musuh nyata Al Qaeda dan pelindungnya. Irak dan Libya adalah karena kaya minyak. Kalau Suriah ?

Posisi China dan Rusia yang menjadi penolong dan pendukung rezim Assad sehingga PBB tak bisa mengeluarkan kutukan dan saksi juga bisa dijadikan alasan. Akan tetapi bukannya China dan Rusia juga sudah bersikap tak setuju atau abstain ketika kasus di Irak dan Libya, tapi tetap barat dengan dipimpin Amerikanya nekad menyerang dengan senjata ? Kemana keberanian itu saat ini ?

Selain itu ada pihak lain yang menjadi penopang kekuatan Assad sejak dulu yakni negara syiah Iran. Kalau memang Iran dianggap musuh barat, bukannya ini kesempatan untuk melemahkan pengaruhnya di timur tengah dengan menghabisi kelompok yang terkait dengannya ?

Tak heranlah kiranya jika saya sebagai penulis cuma bisa sampai pada kesimpulan bahwa syiah melalui Iran dan konco-konconya hanya melakukan sandiwara atau beretorika menentang barat agar dianggap sebagai pahlawan dan menarik simpati dunia Islam sementara kenyataannya mereka menohok muslim sunni di berbagai tempat; dan barat memanfaatkan retorika Iran dan syiah untuk semakin menjelekkan Islam di dunia internasional sekaligus melemahkan dan menghacur-leburkan rakyat sunni yang mayoritas.


TAGS opini pendapat dunia Islam syiah anti barat iran pahlawan islam sunni syiah konflik suriah syria tragedi kemanusiaan assad kisruh kekacauan arab konflik timur tengah


-

Search

Tulisan Baru