photo bannercreator-nu1_zpsuf9u53ms.gif

Melatih Diri Untuk Taat Pada Aturan

11 Mar 2014

Aturan pada prakteknya sering ditaati hanya ketika adanya ancaman berupa hukuman yang nyata, sedangkan tanpa adanya penegakan yang berkesinambungan atau tanpa adanya pengawasan maka menjadi salah satu tabiat kebanyakan manusia untuk dengan mudah melanggarnya, termasuk pada diri penulis sendiri.

Disiplin pribadi barangkali adalah kata kunci dari itu semua. Diri yang terlatih untuk berdisiplin mentaati aturan yang berlaku walaupun tak ada yang mengawasi, maka itulah suatu pribadi yang ideal. Dan untuk melatih kedisiplinan dalam mentaati aturan maka memang perlu suatu kesadaran diri akan pentingnya aturan. Setelah adanya kesadaran di dalam diri maka perlu adanya latihan berupa praktek pelaksanaannya dalam kehidupan sehari-hari.

Adalah cerita tadi malam di jalan raya ketika harus mengendarai kendaraan roda dua yang menjadi inspirasi tulisan ini. Setelah capek beraktifitas mencari sesuap nasi hingga malam hari, ketika maksud hati ingin berputar haluan apa daya ternyata tempat belokan terdekat terpasang tanda lalu lintas yang menyatakan dilarang untuk melakukan U-turn.

Tak ada polisi di sekitar sana dan jalanan relatif sepi karena sudah sekitar jam 9 malam sehingga mudah saja sebenarnya jika berputar dengan kendaraan roda dua, apalagi tempatnya juga dirasa tak berbahaya dari segi keselamatan. Tapi entah kenapa ketika niat itu muncul, hati nurani ini merasa berontak dan protes. Diri ini sesaat merasa menjadi orang rendah jika tetap melakukannya sementara jelas-jelas di hadapan mata terpajang tanda larangan. Lalu dalam hitungan seper-sekian detik tak terasa motor pun tetap melaju lurus sampai menemukan tempat berputar yang seharusnya. Agak cukup jauh memang jadinya, tapi setelah itu muncul senyuman.

Diri ini tersenyum karena selain mendapat ide untuk menulis, kejadian di saat itu bisa menjadi suatu renungan tersendiri.

Penulis menjadi ingat ketika seringkali juga melanggar aturan dengan berbelok di tempat yang seharusnya dilarang oleh rambu lalu lintas, seringkali dengan alasan bahwa tak seharusnya ada rambu lalu lintas yang melarang disana. Tapi di beberapa kesempatan penulis juga adakalanya patuh aturan dan menjadi orang yang idealis. Boleh dikatakan masih plin-plan lah.

Di saat itu penulis juga ingat bagaimana seorang kenalan - yang kiranya lebih bagus sifatnya - pernah terlihat harus berjalan jauh agar bisa menyeberang di zebra cross padahal saat itu dia hanya berada di jalanan kampus yang jelas-jelas bukan jalan raya utama dan juga tak ada satu kendaraan pun yang lalu lalang.

Entahlah jika kisah seorang teman tersebut yang menjadi pendorong ketika diri ini tiba-tia berniat mentaati aturan jalan raya. Akan tetapi secara sadar sebenarnya penulis juga terpengaruh dengan kondisi di negara lain yang kiranya jauh lebih maju dan tertib dari Indonesia. Dengan kondisi penulis sering mengunjungi negara tersebut, maka secara tak sadar ada tertanam di hati tentang penting dan indahnya aturan itu jika dipatuhi.

Entah juga karena di malam tadi penulis lagi berada dalam suasana “tobat” dan berjanji kepada Tuhan untuk menjadi pribadi yang jauh lebih baik ke depannya agar bisa terhapus segala kesalahan di masa lalu.

Terlepas dari faktor apa yang mendorong seseorang untuk patuh pada aturan walaupun tak ada orang yang mengawasi, faktor pendorong yang membuatnya melakukan hal itu pasti ada. Salah satunya adalah kesadaran diri akan pentingnya aturan ataupun keinginan diri untuk menjadi pribadi yang baik.

Maka barangkali tak ada kata yang lebih tepat untuk mengakhiri tulisan ini daripada ajakan agar kita semua mulai melatih diri untuk taat dan patuh pada aturan yang berlaku, dimanapun dan kapanpun.


TAGS aturan jalan raya disiplin diri pribadi melatih taat aturan cerita jalan raya kisah renungan hikmah


-

Search

Tulisan Baru