photo bannercreator-nu1_zpsuf9u53ms.gif

Bila Waktu Dirasa Terlalu Singkat Tapi Banyak Hal Yang Perlu Dilakukan

28 Aug 2015

Apakah anda termasuk seseorang yang merasa waktu dalam sehari tak cukup dan terlalu singkat untuk melakukan berbagai hal perlu anda lakukan ?

Atau barangkali anda malah merasa waktu berjalan sangat lama, dan ingin rasanya cepat berlalu ke suatu masa yang akan datang ?

Ada memang dua paradoks yang bisa dirasakan seseorang dalam menjalani rutinitas kehidupan nya sehari-hari.

Bagi yang merasa waktu 24 jam sehari tak cukup, ada berbagai kemungkinan. Bisa jadi ia adalah seseorang bawahan yang diserahi tugas menyelesaikan suatu tugas dalam batas waktu tertentu. Bisa jadi ia adalah seorang usahawan yang berpacu dengan waktu untuk suatu proyek bisnisnya. Atau bisa jadi ia adalah pelajar yang keesokan harinya akan menghadapi ujian tapi terlanjur kurang persiapan sehingga harus belajar dengan sistem kebut semalam. Dan banyak contoh kasus lainnya yang barangkali masing-masing kita bisa memberi contoh tambahan.

Yang jelas saya tergolong ke dalam kelompok yang merasa waktu sehari itu dirasa sangat kurang. Ada banyak rasanya hal-hal penting yang perlu dilakukan. Bukan karena dikejar deadline atau batas waktu, akan tetapi karena perlu melakukan banyak hal sebagai persiapan untuk menghadapi masa depan.

Ada hal baru yang perlu dipelajari secepat mungkin, padahal yang namanya belajar pasti tak akan instant, butuh waktu tertentu sehingga perlu dipelajari sedikit demi sedikit, bertahap demi setahap. Sementara itu ada hal-hal rutin keduniaan yang penting untuk dilakukan, terutama dalam rangka menyambung hidup, mencari sesuap nasi. Belum lagi teringat akan planning tertentu yang perlu dipersiapkan sejak sekarang. Dibarengi dengan usaha tetap pentingnya menjaga kebugaran, dan juga memelihari kondisi spiritualis dengan melakukan kegiatan yang sifatnya ibadah, dan masih banyak hal lainnya, dimana pada akhirnya waktu sehari terasa sangat kurang.

24 jam sehari dirasa tak cukup, dan 24 jam itu pun sudah habis sepertiganya untuk kegiatan tidur , mandi, makan, dan sebagainya.

Maka tak ayal, menempatkan mana yang penting tapi mendesak, penting tapi kurang mendesak, kurang penting tapi mendesak, dan seterusnya menjadi poin penting. Akan tetapi sebagai manusia adakalanya terlalu asyik dan hanyut dalam suatu kegiatan dan sejenak gagal melihat skala prioritas. Adakalanya waktu tidur terkorbankan, atau olahraga menjadi terabaikan. Adakalanya malah terjadi kekacauan jadwal hidup, atau malah lebih parahnya ketika semua menjadi mumet suasana hatipun pun mendadak jadi kacau balau.

Bagi yang merasakan waktu dalam kehidupannya berjalan sangat lama, barangkali ia sudah merasa cukup akan hidupnya, dengan apa yang dimiliki, atau legowo dengan keadaan yang ada. Atau bisa jadi ia memiliki filosofi hidup yang santai, tak ambisius, dan menjalani segala sesuatu nya dengan tenang. Atau malah ia bisa jadi ia tengah mengharapkan sesuatu menyenangkan yang telah direncanakan sehingga tak sabar untuk menjalaninya sesegera mungkin. Dan banyak alasan-alasan lainnya.

Saya tak bisa berkata mana yang golongan yang lebih baik karena bisa jadi dua kelompok itu sama-sama baik, tergantung dari pribadi masing-masing dan sikon nya. Dan saya juga teringat kata-kata bijak bahwa sesuatu yang berlebihan pasti tak baik, yang bisa jadi berlaku dalam hal ini. Merasa waktu tak cukup karena terlalu tergesa-gesa, atau merasa waktu berjalan terlalu lama karena terlalu berleha-leha, kedua-duanya pasti tak baik.

Saya jadi teringat, sering kita dengar dalam banyak percakapan orang sehari-hari hal-hal yang bunyinya kurang lebih begini, “Wah, cepat sekali ya waktu berlalu. Gak kerasa sudah….”

Barangkali memang mayoritas di antara kita mengakui waktu terasa makin cepat dengan semakin majunya perkembangan teknologi saat ini. Apalagi sebagai orang Islam saya ingat hadis nabi yang menyatakan bahwa salah satu tanda akhir zaman adalah waktu terasa makin pendek.

Maka barangkali bukan pertanyaan dengan nada menggerutu kenapa waktu itu berlalu sangat cepat yang layak untuk dilemparkan, karena memang waktu adalah pedang sebagaimana kata seorang bijak. Akan tetapi yang patut untuk diperhatikan sepertinya adalah bagaimana cara kita menyikapinya.

Bagaimana kita menggunakan waktu yang terasa singkat dengan bermanfaat, efisien, dan tepat guna untuk melakukan banyak hal yang perlu untuk dilakukan barangkali adalah kuncinya, dan bagi yang terlanjur panik karena kehabisan waktu (deadline) maka berdoa dan pasrah juga barangkali adalah jawabannya.


TAGS Lifestyle Prinsip Spiritual


-

Search

Tulisan Baru