photo bannercreator-nu1_zpsuf9u53ms.gif

Protes Nasi Goreng Ciutan Rio Ferdinand, Nasionalisme Rakyat Tinggi ?

20 Sep 2016

Saya cukup tersenyum ketika pertama kali membaca berita tentang ciutan pesepakbola Rio Ferdinand tentang nasi goreng di Singapura yang ditanggapi riuh beberapa netizen Indonesia yang berkomentar sedikit protes bahwa nasi goreng itu sebenarnya dari Indonesia.

Saya tersenyum karena kenyataannya nasi goreng saat ini memang bisa dijumpai dimana-mana terutama terutama di kawasan negara negara sekitar kita seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand.

Apalagi bagi orang Indonesia yang sering bepergian ke Singapore dan Malaysia, maka nasi goreng tentu bukan hal yang asing lagi untuk ditemui. Bahkan di Thailand pun ada nasi goreng, diantaranya yang terkenal jadi ciri khas : nasi goreng Pattaya.

Lalu di berita juga ditampilkan komentar netizen lain yang mengatakan Indonesia suka klaim segala sesuatu milik mereka.

Disini muncul sedikit pemikiran di saya.

Apa sebenarnya rasa memiliki dan rasa bangga sebagai bangsa Indonesia di kalangan rakyat itu sebenarnya tinggi? Maka komentar sebagian netizen Indonesia itu sebenarnya suatu keinginan agar negara Indonesia diakui di dunia ini ?

Atau apa sebenarnya murni gagal paham ? Gagal paham akan realita saat ini terutama realita geografis historis yang membuat berbagai produk kebudayaan banyak yang saling berinteraksi, termasuk dalam hal ini makanan?

Mungkin pemantik dari reaksi beberapa netizen Indonesia ini adalah karena Rio Ferdinand menulis nasi goreng dengan bahasa Indonesia atau bahasa Melayu : nasi goreng, dan bukan dalam bahasa inggris yakni fried rice.

Tapi lagi lagi memang orang Melayu Singapura dan Malaysia pun memakai istilah tulisan Nasi Goreng. Bahkan orang bukan melayu singapore pun banyak yang tahu istilah Nasi Goreng.

Kontroversi ini memang tak seserius masalah batik atau tarian, tapi hal ini menjadi cukup menarik untuk diperbincangkan.

Nusantara sebenarnya memang tak hanya Indonesia. Wilayah nusantara itu sebenarnya terbentang dari Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei, Filipina dan barangkali sampai ke Thailand. Dan wilayah nusantara ini dulunya di zaman zaman kerajaan dulu saling berinteraksi, dan ketika belum berdiri sistem negara seperti saat ini, wilayah Indonesia dan Malaysia, terutama pernah menyatu.

Barangkali rakyat kita memang pada dasarnya tinggi akan rasa kepemilikan dengan tanah air Indonesia ini. Akan tetapi mungkin kurang bangsa dan negara ini mendapat pengakuan dari dunia, atau lebih tepatnya barangkali memang belum banyak yang bisa bangsa ini tunjukkan atau usahakan agar banyak orang lain dan bangsa lain di dunia mengetahui dan mengakui kebesaran negara ini dengan sejarah dan budayanya.

 

 


TAGS Peristiwa berita umum


-

Search

Tulisan Baru