photo bannercreator-nu1_zpsuf9u53ms.gif

Sumber Panasnya Dunia Politik Itu Bernama Ahok

22 Sep 2016

iSosok Ahok paling tidak sangat kontoversial, dalam artian kehadiran dirinya di dunia perpolitikan nasional menjadi tenaga penggerak panasnya suhu politik dalam beberapa bulan terakhir.

Walaupun posisi gubernur DKI Jakarta dari dulu memang sudah hingar bingar jadi rebutan, dan sarat akan kepentingan nasional partai-partai politik - paling tidak menjadi posisi gubernur paling disorot oleh media di tanah air - maka kehadiran Ahok membuat suasana pilkada DKI Jakarta ini bagaikan pentas pemilihan presiden.

Sejak kehadirannya di panggung politik nasional, yang ditandai menjadi calon wakil gubernur, berpasangan dengan Jokowi, kehadiran dirinya sudah menimbulkan kontroversi. Di awal-awal kontroversi ini barangkali tak akan terlepas dari fakta bahwa Ahok beretnis tionghoa yang juga non-muslim. Saya masih ingat di awal-awal kemunculan Ahok, adakalanya saya dengar selentingan komentar orang berkomentar kenapa Jokowi harus memilih pasangan non-muslim.

Setelah Jokowi sukses jadi gubernur dan lanjut jadi Presiden, maka otomatis pamor Ahok pun naik dengan diangkatnya dia menjadi gubernur. Apalagi dia sosok yang cukup kontroversial juga dalam hal gaya kepemimpinan. Maka tak heran, banyak orang yang awalnya mengagumi jadi tambah lebih kagum lagi; ada juga orang yang awalnya bersikap netral hati-hati berubah menjadi simpatik kepadanya; ada juga pihak yang netral di awal menjadi bingung harus bersikap gimana ke Ahok; dan tentunya banyak juga yang di awal sudah sinis menjadi makin antipati atau benci kepadanya.

Pandangan dan sikap orang-orang terhadap Ahok tak terlepas dari peran media massa dan media sosial yang dibacanya. Ahok di satu sisi dicitrakan sebagai pejabat yang tegas dan bagus dalam memimpin; tapi di pihak lain juga diberitakan sebagai sosok yang tidak berperikemanusian terhadap rakyat kecil, pro-konglomerat besar, dan sempat juga dikaitkan dengan isu korupsi. Terlepas dari hal itu, sosok Ahok yang pada awalnya kontroversi dirinya di masyarakat lebih terfokus akan dirinya yang etnis tionghoa non muslim, lambat laun memunculkan isu-isu kontroversi baru lainnya. Entah unsur SARA itu untuk saat ini masih berpengaruh atau tidak, saya dalam hal ini tak begitu tahu.

Dan dalam pilkada DKI Jakarta ke depan ini juga, partai-partai politik menjadi terbelah. Pendukung Ahok dimotori PDI-P, Hanura, Nasdem, dkk sedangkan partai lain masih belum pasti calonnya walaupun Sandiaga Uno sepertinya akan masuk pencalonan entah sebagai calon gubernur atau wakil gubernur. Dari yang awalnya lebih ke Ahok, versus non-Ahok (dalam artian mencari sosok alternatif pengganti Ahok yang telah memunculkan banyak nama), situasi perpolitikan terbaru memungkinkan kubu non-Ahok akan terpecah dua jika seandainya Gerindra dan PKS yang sudah lebih dulu menetapkan sikap tidak bergabung dengan Demokrat, PPP, PKB, dan PAN.

Malah situasi terbaru berpeluang menjadikan 3 figur presiden atau calon presiden sebelumnya menjadi sosok penting di belakang layar dalam percaturan politik pilkada DKI Jakarta ini yakni kubu Megawati, SBY, dan prabowo.

Kita lihat saja ke depannya bagaimana perkembangan cerita dunia perpolitikan yang lagi panas ini, yang tema utamanya adalah Ahok.


TAGS Ahok calon gubernur kontroversi ahok politik nasional pilkada DKI jakarta berita politik


-

Search

Tulisan Baru